Angkanya cukup detail: jalanan naik 11,6%, laut bertambah 9,86%, dan udara meningkat hampir 7%. Kereta api sendiri tumbuh solid di angka 10%. Namun, yang menarik perhatian adalah konfirmasi tentang tren jet pribadi ini. Rupanya, kebutuhan untuk silaturahmi dengan cara yang lebih eksklusif dan efisien juga ikut meroket.
“Kami laporkan, terjadi kenaikan memang kebutuhan pesawat dan pesanan private jet untuk kebutuhan silaturahmi juga cukup tinggi,” kata Suntana.
Di sisi lain, arus mudik dengan kendaraan pribadi juga tak kalah ramai. Pergerakan kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek mencapai 2,9 juta unit, naik sekitar 4% dari tahun sebelumnya. Mayoritas tepatnya 51% tujuan utamanya adalah Jawa Tengah. Sisanya berbagi ke Jawa Timur (26,5%) dan wilayah barat serta selatan seperti Bogor dan Sukabumi.
“Karena memang kadang-kadang untuk wisata,” ucap Suntana, sambil menyelipkan catatan personal bahwa Sukabumi adalah kampung halamannya.
Jadi, gambaran mudik tahun ini cukup kompleks. Di satu sisi, transportasi umum makin digemari. Tapi di saat bersamaan, layanan penerbangan eksklusif justru menemukan pasarnya sendiri. Semuanya bergerak, semuanya ramai, mencerminkan dinamika masyarakat yang terus berubah.
Artikel Terkait
Bank QNB Indonesia Catat Pertumbuhan Kredit 18% dan Perbaikan NPL di 2025
BSI Salurkan Zakat Perusahaan dan Karyawan Rp289 Miliar, Pertahankan Posisi Penyumbang Terbesar
Kemenpar Alihkan Fokus Pasar ke Asia Timur dan ASEAN Imbas Konflik Timur Tengah
Granat Aktif Ditemukan di Tong Sampah Kantor BPN Makassar