Konflik di Timur Tengah yang memanas memang bikin was-was. Apalagi buat sektor pariwisata kita yang lagi berusaha bangkit. Tapi, pemerintah nggak tinggal diam. Kementerian Pariwisata, lewat Menteri Widiyanti Putri Wardhana, bilang mereka udah siapin strategi. Targetnya tetap ambisius: 16 sampai 17,6 juta wisatawan mancanegara di tahun 2026. Nah, untuk mencapainya, fokus sekarang dialihkan ke pasar yang dianggap lebih stabil: Asia Timur dan negara-negara tetangga di ASEAN.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga,”
Ucap Menpar Widiyanti dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Rabu lalu. Dia ngakuinya, situasi di Timur Tengang ini bener-bener serius. Bayangin aja, gara-gara penutupan wilayah udara Iran, 770 penerbangan internasional ke Jakarta, Bali, dan Medan dibatalkan. Rugi? Gede banget. Sekitar 60 ribu wisatawan batal datang, yang artinya potensi devisa sekitar Rp 2,04 triliun menguap begitu saja.
Jadi, apa yang bakal dilakukan? Strateginya disebut 'pivot'. Alih-alih mengandalkan pasar yang lagi gonjang-ganjing, Kemenpar bakal genjot promosi ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Kampanye digital internasional juga bakal dikuatin. Di sisi lain, rute langsung ke Eropa dan Amerika bakal dioptimalkan, sambil terus mendorong event-event berskala internasional buat narik perhatian.
Secara umum, program prioritas tahun depan bakal fokus pada pariwisata yang berkualitas, aman, dan tentu saja berkelanjutan. Misalnya nih, dengan meningkatkan sertifikasi pemandu wisata dan memetakan daerah-daerah rawan bencana. Mereka juga mau kembangkan 6.200 desa wisata. Tujuannya jelas: menguatkan ekonomi lokal biar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Program-program lain kayak Wonderful Indonesia Gastronomy dan Wellness juga bakal terus dilanjut. Bahkan, ada percepatan digitalisasi lewat Tourism 5.0. Semua ini diharapkan bisa bikin destinasi kita makin kompetitif.
Menpar yakin, dengan kolaborasi yang solid antar lembaga dan dukungan DPR, sektor pariwisata bisa tetap resilient menghadapi tantangan global. Keyakinan itu dapat respons dari anggota dewan.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Daulay, mengapresiasi langkah mitigasi yang diambil. Tapi, dia tetap mendesak agar konektivitas untuk wisatawan nusantara juga dikuatkan di tengah ketidakpastian ini.
Sementara itu, Anggota Komisi VII Putra Nababan punya catatan lain. Dia mengingatkan pemerintah untuk jeli mempelajari perubahan perilaku wisatawan, baik yang datang dari jarak jauh maupun menengah. Dia juga mendesak keras penghapusan ego sektoral.
“Pemberlakuan bebas visa bagi turis China dan Australia itu perlu segera. Biar sektor pariwisata kita makin kuat,” tegas Nababan.
Jadi, meski ada ancaman dari konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, upaya untuk menyelamatkan target pariwisata nasional terus bergulir. Strateginya disesuaikan, fokusnya dialihkan, tapi semangatnya tetap sama: agar Indonesia tetap jadi destinasi yang menarik di mata dunia.
Artikel Terkait
Kemlu RI Konfirmasi Sembilan WNI Ditahan Israel dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza
Persib Bandung Kembali Diperkuat Bojan Hodak dan Dua Pemain Asing, tetapi Marc Klok Absen di Laga Pamungkas
YouTube Uji Coba Fitur Ask YouTube, Pencarian Video Berbasis AI untuk Jawaban Langsung
Indonesia Pamerkan Budaya di Pameran Pariwisata Internasional Aljazair