Kasus child grooming kembali menyita perhatian. Bermula dari seorang siswi SMP di Maros, berinisial HN (15), yang menjadi korban kekerasan seksual oleh kekasihnya, JR (31), di Makassar. Peristiwa memilukan ini tentu saja menyalakan alarm. Seberapa waspada sebenarnya anak-anak dan remaja kita terhadap hubungan tidak sehat dengan orang dewasa?
Di kalangan pelajar SMA sendiri, istilah itu mulai akrab di telinga. Tapi pemahaman akan bahayanya? Itu soal lain. Tingkat kesadarannya masih beragam, dan itulah yang mengkhawatirkan.
Kami mencoba menelisik pemahaman para siswa, kali ini di SMAN 9 Makassar. Apa yang mereka pikirkan tentang praktik mengerikan ini?
Siswi: Manipulasi yang Merayap dan Tak Terasa
Faridatun Kamilah, siswi 16 tahun, punya penilaian yang cukup tajam. Baginya, child grooming adalah bentuk manipulasi orang dewasa terhadap anak di bawah umur, dengan tujuan seksual yang terselubung.
"Child grooming itu kayak orang dewasa yang mau manipulasi anak-anak untuk dimanfaatkan. Dia punya tujuan buruk, untuk dijadikan bahan pemuas kebutuhan seksual," ujar Farida, Rabu lalu.
Menurutnya, bahaya utama justru terletak pada prosesnya yang pelan dan licin. Seringkali, korban sama sekali tak sadar sedang dieksploitasi.
"Tindakannya sangat berbahaya karena pelaku manipulasi anak-anak secara perlahan. Sampai-sampai si korban tidak menyadari dirinya sedang dimanipulasi," jelasnya.
Farida juga menyoroti modus pelaku yang kerap bersembunyi di balik identitas palsu di media sosial. "Menurutku itu tidak normal. Secara status belum menikah, masih di bawah umur, dan jelas melanggar hukum," tegas dia.
Membangun Kepercayaan dengan Topeng
Pandangan serupa datang dari Aura, juga 16 tahun. Ia mendefinisikannya sebagai hubungan yang keliru, melibatkan anak dengan orang yang jauh lebih dewasa.
"Biasanya pelaku pura-pura baik, perhatian, atau romantis. Caranya pakai identitas palsu foto dan umur palsu dengan menyamakan diri dengan korban. Pelan-pelan, ini bikin korban percaya dan akhirnya bergantung," papar Aura.
Baginya, hubungan semacam ini mustahil dianggap wajar. Ketimpangan usia, kedewasaan, dan cara berpikir menciptakan celah besar untuk manipulasi.
"Pihak yang lebih dewasa punya kemungkinan besar untuk mempengaruhi, mengontrol, bahkan memanipulasi korban. Baik secara emosional maupun dalam pengambilan keputusan," katanya.
Aura menambahkan, dari berita yang ia baca, keluarga yang tidak harmonis sering jadi pintu masuk pelaku. Mereka menawarkan rasa nyaman palsu. "Korban sudah bergantung secara emosional. Ini menunjukkan child grooming bukan cuma soal tipu identitas, tapi juga eksploitasi keadaan. Makanya, komunikasi baik dalam keluarga itu penting," tuturnya.
Suara dari Siswa Laki-laki: Menolak Normalisasi
Dari sudut pandang berbeda, Abdul Muhayyamin (17) menyatakan penolakan kerasnya. Ia paham betul dan menentang jika praktik ini dinormalisasi.
"Menurut saya itu sangat tidak normal dan tidak patut dinormalisasikan. Ada anak belum cukup umur menjalin hubungan dengan pria jauh di atasnya? Itu sangat tidak baik," kata Abdul dengan tegas.
Sementara itu, Ibrachim (17) mengaku belum sepenuhnya paham istilah teknisnya. Tapi sikapnya jelas: menolak.
"Saya sebenarnya belum paham detail tentang child grooming. Tapi saya pernah dengar, itu orang dewasa yang berpacaran dengan anak kecil," ucap Ibrachim.
"Itu hal yang tidak normal. Sepatutnya orang dewasa mencari pasangan yang setara. Bukan yang di bawah umur, karena pikirannya belum sebanding," tambahnya.
Jelas, meski tingkat pemahamannya bervariasi, insting untuk menolak hubungan tak sehat itu sudah muncul. Itu mungkin titik awal yang baik. Tapi, apakah cukup? Di tengah maraknya interaksi daring dan godaan di dunia maya, kewaspadaan kolektif harus terus dibangun. Bukan hanya tugas sekolah, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Panen Raya Udang di Kebumen, Sebut Potensi Ekonomi Tambak Modern Sangat Besar
Perempuan 20 Tahun Tewas Terlindas Truk di Sidoarjo, Polisi Buru Pengemudi Mobil yang Kabur
Mantan Kepala Bulog Bulukumba Kembalikan Rp1,41 Miliar Uang Korupsi Beras SPHP
Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bajoe Diprediksi Puncak 26 Mei, ASDP Siapkan Ekstra Trip