BSI Salurkan Zakat Perusahaan dan Karyawan Rp289 Miliar, Pertahankan Posisi Penyumbang Terbesar

- Rabu, 01 April 2026 | 16:40 WIB
BSI Salurkan Zakat Perusahaan dan Karyawan Rp289 Miliar, Pertahankan Posisi Penyumbang Terbesar

Bank Syariah Indonesia (BRIS) baru saja menyerahkan lagi zakat perusahaan dan karyawannya ke BAZNAS. Angkanya gak main-main, mencapai Rp289 miliar. Dengan kontribusi segini, posisi BSI sebagai penyetor zakat korporat terbesar di tanah air pun tetap kokoh.

Menurut Direktur Utamanya, Anggoro Eko Cahyo, kegiatan berzakat ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah bagian dari strategi perusahaan untuk menciptakan dampak ekonomi yang betul-betul berkelanjutan bagi masyarakat luas.

"Kami lihat tren 2026 angka pengumpulan ZISWAF per bulannya lebih tinggi dibandingkan tahun 2025. Dan sebagai bank kami cukup bangga,"

Ucapnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026) lalu. Optimisme itu punya dasar. Sepanjang 2025, penghimpunan donasi lewat berbagai kanal pembayaran BSI sendiri sudah menembus Rp236 miliar, dengan total transaksi mencapai 10,5 juta kali.

Kalau dilihat pergerakannya, penyaluran zakat BSI tahun lalu memang menunjukkan tren positif. Tercatat ada kenaikan 7,77 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini berjalan seiring dengan pertumbuhan bisnis perseroan, sekaligus mempertegas komitmen mereka untuk memberikan manfaat sosial.

Rinciannya, dari total Rp289 miliar tadi, Rp250,3 miliar berasal dari zakat perusahaan. Sementara sisanya, Rp39,5 miliar, adalah kumpulan zakat dari para pegawai.

Nah, kalau ditarik lebih jauh, kontribusi BSI sejak berdiri tahun 2021 ternyata sudah sangat signifikan. Secara kumulatif, total zakat yang disalurkan hingga 2025 mencapai Rp1,07 triliun. Dana sebesar itu tentu jadi instrumen penting untuk mendukung berbagai program pemberdayaan.

Dana zakat tahun sebelumnya, yang besarnya Rp268,6 miliar, misalnya, telah dikucurkan melalui lebih dari 40 program. Cakupannya luas, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, sampai urusan kemanusiaan, dakwah, dan advokasi. Program-program itu sendiri diklaim telah menjangkau lebih dari 1,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Jadi, angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ia punya wajah dan cerita di lapangan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar