Lalu, apa yang mendorong semua ini? Jawabannya ada pada peningkatan penyerapan beras lokal. Realisasinya naik drastis, dari sekitar 24,6 ribu ton di Maret 2024, melesat hingga 610,2 ribu ton pada Maret 2025. Perbedaan yang sangat mencolok.
Di sisi lain, situasi ini membawa dampak positif yang langsung dirasakan masyarakat. Amran menekankan bahwa cadangan yang kuat ini berperan besar menstabilkan harga, terutama di bulan Ramadan seperti sekarang. Beras, yang selama satu hingga dua dekade kerap jadi biang kerok inflasi, kini perannya berubah.
"Alhamdulillah, bulan suci Ramadan, bukan harga beras menjadi penyumbang inflasi. Dan 10 sampai 20 tahun terakhir, biasanya nomor satu penyumbang inflasi adalah beras," tegasnya.
Data dari BPS sepertinya mendukung pernyataan itu. Inflasi beras bulanan hingga Februari 2026 tercatat rendah, hanya 0,43 persen. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan puncak-puncak inflasi beberapa tahun belakangan. Sebagai perbandingan, di Desember 2022 inflasi beras pernah menyentuh 2,30 persen, lalu melonjak lagi jadi 5,61 persen pada September 2023.
Yang menarik, tren kenaikan harga beras bulanan sepertinya berhasil diredam. Sejak Juni 2024, indeks inflasinya tak pernah lagi menembus angka 2 persen. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kendali harga, dari hulu ke hilir, berjalan cukup efektif dalam dua tahun terakhir. Stok yang melimpah, rupanya, memang jadi penopang utama.
Artikel Terkait
Dua Personel UNIFIL Tewas dalam Ledakan di Lebanon Selatan
KPK Tetapkan Dua Pengusaha Haji sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota
Veda Ega Pratama Gagal Finis di Moto3 AS Usai Kecelakaan di Lap Keempat
AS Kerahkan Pasukan Khusus ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran