Gunungan sampah yang tak kunjung diangkut kembali memusingkan para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bukan cuma soal bau, aktivitas jual beli mereka pun jadi kacau balau.
"Jalannya sekarang makin sempit karena sampah numpuk tinggi. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," keluh Suratno, seorang pedagang berusia 52 tahun, pada Senin lalu. Suaranya terdengar kesal.
Menurutnya, kondisi itu sudah berlangsung cukup lama. Tapi, sampai sekarang belum ada perbaikan yang berarti. Padahal, bau menyengat dari sampah buah dan sayuran busuk itu sampai masuk ke dalam kios, mengganggu kenyamanan berdagang.
"Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus. Sangat mengganggu," ujarnya.
Persoalannya nggak cuma di situ. Akses distribusi barang pun ikut terdampak. Padahal, bongkar muat barang adalah urat nadi pasar induk semacam ini, yang memasok kebutuhan pangan ke banyak daerah. Kalau lalu lintasnya macet karena sampah, ya ujung-ujungnya pasokan bisa terlambat.
Di sisi lain, pedagang lain bernama Susanti punya keluhan yang tak kalah seru. Dia menyoroti soal retribusi kebersihan yang tetap harus dibayar, meski pelayanan sampah jauh dari kata memadai.
Artikel Terkait
Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun, Angka Kematian Anjlom 31 Persen
Harga Cabai dan Daging Turun Signifikan di Awal Pekan
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran