Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah relatif rendah. Loan at Risk tetap terkendali, didukung cadangan yang memadai. Ini menunjukkan manajemen risiko dan tata kelola yang berjalan prudent. Sepanjang 2025 lalu, laba yang dibukukan juga baik, menunjukkan keseimbangan yang sehat antara pertumbuhan dan kehati-hatian.
Di tengah gejolak global, peran Himbara dalam menyalurkan kredit ke sektor riil dan program pemerintah tetap stabil. OJK sendiri tak tinggal diam. Pengawasan berkelanjutan dilakukan untuk memastikan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik tetap dijalankan.
Lalu, apa dampak revisi outlook ini? Menurut OJK, penilaian dari lembaga pemeringkat itu tidak serta-merta memengaruhi kemampuan bank dapatkan pendanaan. Peringkat kredit bank-bank itu sendiri masih investment grade, didukung fundamental kuat. Struktur pendanaan perbankan kita juga masih mengandalkan DPK domestik, sehingga ketergantungan pada dana luar negeri terbatas. Kalau pun butuh, semuanya sudah diperhitungkan matang, termasuk soal biaya dan manfaatnya.
OJK menghormati metodologi lembaga pemeringkat. Tapi mereka juga punya keyakinan. Penyesuaian outlook ini dinilai bersifat sementara dan bisa berbalik arah (reversible).
"Dengan perkembangan tersebut, outlook peringkat kredit ke depan berpeluang kembali ke posisi stabil maupun positif," ujar Dian.
Menyikapi hal ini, OJK bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berkomitmen terus menjaga stabilitas. Koordinasi kebijakan dan pengawasan akan diperkuat, agar ketahanan sektor perbankan tetap terjaga menghadapi dinamika ekonomi ke depan.
Artikel Terkait
Meta Didenda Rp 6,3 Triliun Atas Pembahayaan Kesehatan Mental Anak
Kapolri Perintahkan Antisipasi Cuaca Ekstrem di Jalur Penyeberangan Saat Arus Balik Lebaran
Harga BBM di Jakarta Tetap Stabil Pasca-Lebaran 2026
Herdman Buka Alasan Panggil Elkan Baggott Kembali ke Timnas Indonesia