HOUSTON Suara ledakan keras mengguncang Kota Port Arthur, Texas, Senin (23/3/2026) lalu. Kilang minyak Valero di kota itu tiba-tiba meledak dan dilalap si jago merah. Peristiwa ini langsung memicu gelombang spekulasi liar di media sosial. Banyak netizen yang menghubung-hubungkannya dengan ancaman Iran terhadap AS dan Israel.
Memang, situasinya sedang panas. Iran dan AS-Israel saling mengancam akan menyerang fasilitas energi masing-masing, menyusul ketegangan di Timur Tengah. Belum lama ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengumumkan perubahan strategi militer. Mereka kini akan lebih ofensif menargetkan aset energi kedua negara itu.
Stasiun televisi Lebanon, Al Mayadeen, melaporkan pergeseran strategi IRGC itu dari defensif ke ofensif.
Namun begitu, otoritas setempat buru-buru meredam tudingan sabotase. Sheriff Zena Stephens dari Kepolisian Port Arthur menyatakan bahwa ledakan kemungkinan besar hanya kecelakaan industri.
"Kami menduga pemicunya adalah pemanas industri. Penyebab pastinya masih diselidiki, tapi ini kami anggap sebagai kecelakaan," tegas Stephens.
Dampak ledakannya ternyata cukup hebat. Banyak warga sekitar yang langsung berlindung. Kaca-kaca jendela bergetar hebat diterpa gelombang suara yang dahsyat. Suasana panik sempat melanda.
Di tengah situasi mencekam itu, ada kabar baik. Wali Kota Port Arthur, Charlotte M. Moses, memastikan tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka dalam insiden tersebut. Kilang Valero itu sendiri terletak sekitar 145 kilometer di timur Houston.
"Kami mendesak warga di bagian barat Port Arthur untuk tetap di dalam rumah. Tim pemadam kebakaran masih bekerja memadamkan api," ujarnya.
Ledakan ini terjadi di saat yang kurang tepat. Harga bahan bakar minyak global sedang mengalami lonjakan akibat ketidakpastian pasokan. Perang antara AS-Israel dan Iran jelas jadi salah satu pemicu utamanya.
Kilang Valero Port Arthur bukan fasilitas kecil. Tempat ini mempekerjakan sekitar 770 orang dan mampu memproses hampir 435.000 barel minyak per harinya. Fungsinya untuk memurnikan minyak mentah berat menjadi berbagai produk, seperti bensin, solar, hingga bahan bakar jet.
Artikel Terkait
Trump Sebut Harga Tiket Piala Dunia 2026 Kemahalan, Ogah Nonton
Aether AI Jalin Kemitraan Strategis dengan Crawford Software untuk Ekspansi ke Pasar AS dan Asia
Survei: 98% Masyarakat Indonesia Percaya Perubahan Iklim Terjadi, Pemerintah dan Dunia Usaha Percepat Ekonomi Hijau
Pengusaha Tolak Rencana Penerapan Skema Kontrak Bagi Hasil Ala Migas di Sektor Tambang Minerba