Ekonomi Amerika Serikat sedang di ujung tanduk. Ancaman stagflasi kombinasi suram antara pertumbuhan mandek dan inflasi tinggi kini semakin nyata, didorong oleh eskalasi perang di Timur Tengah. Demikian peringatan keras dari Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel asal AS.
Menurut Stiglitz, sebenarnya tanda-tanda pelemahan ekonomi sudah terlihat sebelum konflik dengan Iran memanas akhir Februari lalu. "Ada sejumlah indikator yang menunjukkan pertumbuhan melambat sebelum perang," katanya dalam sebuah wawancara.
Ia tak menampik bahwa situasi kini jauh lebih runyam. Perang praktis mematikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang biasa dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia. Imbasnya, harga minyak global melonjak 40 hingga 50 persen. Lonjakan ini dipicu blokade Iran di selat tersebut serta serangan terhadap aset energi dan perkapalan di Teluk, yang mereka sebut sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Guncangan di pasar energi ini memicu kekhawatiran baru. Sistem perdagangan global, yang sudah tertekan oleh kebijakan tarif Donald Trump, fragmentasi rantai pasokan pasca pandemi, dan perang Rusia-Ukraina, mendapat beban tambahan yang berat.
Artikel Terkait
Juventus Gagal Maksimalkan Peluang, Imbangi Sassuolo 1-1 di Turin
Rudal Iran Hantam Dimona, Balasan Serangan ke Fasilitas Nuklir Natanz
Prabowo Gelar Salat Id Bersama Penyintas dan Buka Istana untuk Silaturahmi Lebaran
Djarot Saiful Hidayat Pangling Lihat Perubahan Ruang Kerja di Balai Kota Jakarta