Bagi Stiglitz, AS adalah negara yang paling rentan. Profesor Universitas Columbia ini mengingatkan pada era 1970-an, ketika guncangan harga minyak memicu stagflasi parah. "Risiko stagflasi tampaknya cukup tinggi bagi AS," ujarnya. Pengalamannya sebagai kepala ekonom Bank Dunia dan ketua dewan penasihat ekonomi di era Presiden Bill Clinton membuat analisisnya sulit diabaikan.
Namun begitu, situasi di kawasan lain belum tentu sama. Stiglitz menilai prospek untuk negara-negara di luar AS tidak begitu jelas, bergantung pada struktur dan ketahanan ekonomi masing-masing.
Jadi, ancamannya nyata. Dan semua mata kini tertuju pada bagaimana pemerintah AS merespons badai ekonomi yang mungkin akan segera datang.
Artikel Terkait
Juventus Gagal Maksimalkan Peluang, Imbangi Sassuolo 1-1 di Turin
Rudal Iran Hantam Dimona, Balasan Serangan ke Fasilitas Nuklir Natanz
Prabowo Gelar Salat Id Bersama Penyintas dan Buka Istana untuk Silaturahmi Lebaran
Djarot Saiful Hidayat Pangling Lihat Perubahan Ruang Kerja di Balai Kota Jakarta