Harga telur ayam di Jawa Barat, khususnya Bandung, tiba-tiba melonjak melebihi batas yang ditetapkan pemerintah. Fenomena ini langsung diselidiki oleh Satgas Saber Pangan Bapanas. Ternyata, akar masalahnya ada di rantai pasokan.
Menurut I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, harga dari produsen di sentra produksi yang diketahui berasal dari Blitar mulai tidak stabil sejak tiga hari terakhir. Fluktuasi inilah yang kemudian berdampak hingga ke tingkat distributor dan akhirnya ke konsumen.
Namun begitu, ada titik terang. Setelah dilakukan pembahasan, produsen dan distributor sepakat untuk menurunkan harga.
"Bersama Direskrimsus Polda Jabar Bapak Kombes Pol Wirdhanto Hadicaksono, telah disepakati harga produsen untuk diturunkan," jelas Ketut.
Ia menambahkan, dengan kesepakatan itu, harga grosir diharapkan bisa berada di kisaran Rp27.500 per kilogram. Kalau begitu, harga eceran di pengecer masih punya peluang untuk bertahan di angka Rp30.000 per kg, sesuai acuan.
Acuan harga itu sendiri sebenarnya sudah jelas. Aturan dari Kepala Bapanas menetapkan Harga Acuan Pembelian di tingkat peternak maksimal Rp26.500 per kg. Sementara untuk kita sebagai pembeli akhir, batas tertingginya adalah Rp30.000 per kilogram.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Resmikan Program Bedah Rumah, Targetkan 663 Unit pada 2026
Penasihat Gedung Putih Tegaskan Ekonomi AS Tak Tergoyahkan Meski Biaya Perang Capai 12 Miliar Dolar
MK Tolak Gugatan Roy Suryo Cs, Permohonan Dinilai Tidak Jelas
JK Peringatkan Bahaya Pelebaran Defisit dan Ancaman bagi Daerah