“Dalam pandangan saya, seluruh pemikiran geopolitik Bung Karno tersebut merupakan upaya nyata untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, dan disertai visi yang begitu kuat bagi perdamaian dunia,” jelasnya dalam surat tersebut.
Dari sini, pikirannya mengalir ke peran institusi global. Megawati terlihat mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bangkit dan mengambil peran yang lebih sentral. Menurutnya, sudah waktunya badan dunia itu didukung oleh negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menciptakan perdamaian.
Argumennya sederhana namun mendasar: kita semua adalah satu umat manusia.
“Sebab kita semua adalah umat manusia yang satu, yang menghuni planet bumi yang sama, dan diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” tulis Megawati.
“Dunia yang berkeadilan seperti itulah yang saya yakini dapat menyatukan visi kita bersama.”
Surat yang ditutup dengan doa dan harapan agar pemimpin baru Iran diberi kebijaksanaan ini, jelas bukan sekadar korespondensi rutin. Ia adalah cerminan dari posisi politik Indonesia yang konsisten, warisan sejarah yang masih hidup, dan sebuah harapan akan tata dunia yang lebih adil di tengah gejolak yang tak kunjung reda.
Artikel Terkait
Arus Mudik H-5 Lebaran Lancar, Angka Fatalitas Kecelakaan Turun 45 Persen
Pemerintah Izinkan Dana BOSP 2026 untuk Bayar Gaji Guru Honorer
Arus Mudik Lebaran di Selat Sunda Turun 19%, ASDP Siagakan 33 Kapal
JK Gelar Pertemuan Tertutup Bahas Defisit Anggaran Daerah