Nah, soal ekspor listriknya sendiri, Indonesia menawarkan pasokan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ini sejalan dengan program besar 100 gigawatt yang digenjot pemerintah, yang tak hanya untuk dalam negeri tapi juga punya potensi ekspor. Namun begitu, tantangannya nyata: harga energi hijau masih lebih mahal ketimbang energi fosil. Itu yang perlu dicari solusi bersama.
Dari pihak Singapura, responsnya positif. Tan See Leng menyebut diskusi teknis sudah menunjukkan kemajuan yang cukup baik.
“Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik,” katanya.
Di penghujung pertemuan, kedua menteri sepakat bahwa sinergi ini bisa menjadi bukti kepemimpinan energi di kawasan ASEAN. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura, ditambah sumber daya Indonesia yang melimpah, visi menjadi pemain kunci dalam pasokan energi hijau terasa semakin nyata. Langkah konkretnya diharapkan segera dimulai melalui proyek percontohan di BBK, sebagai tindak lanjut dari tiga nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya. Semoga saja segera terwujud.
Artikel Terkait
Pemerintah Izinkan Dana BOSP 2026 untuk Bayar Gaji Guru Honorer
Arus Mudik Lebaran di Selat Sunda Turun 19%, ASDP Siagakan 33 Kapal
JK Gelar Pertemuan Tertutup Bahas Defisit Anggaran Daerah
Korlantas: 25 Persen Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta, Fatalitas Kecelakaan Turun 45 Persen