Di sisi lain, Kremlin punya argumen sendiri. Menurut mereka, langkah pelonggaran sanksi justru diperlukan untuk meredam gejolak pasar.
Pernyataan Peskov bukan tanpa alasan. Rusia adalah raksasa energi, salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di planet ini. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, peran mereka jadi kian sentral. Ironisnya, konflik yang mengguncang kawasan justru bisa menguntungkan Moskow.
Analis memperkirakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar sebelas dolar per barel akan menyuntikkan tambahan pendapatan fantastis bagi Rusia: sekitar 28 miliar dolar per tahun. Angka yang sungguh tak main-main. Dengan kata lain, Rusia berpotensi menjadi pemenang besar dari perang di Timur Tengah ini, sambil terus mendesak AS untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya.
Artikel Terkait
Satlantas Bekasi Tutup 30 Titik Putar Balik di Jalur Pantura untuk Antisipasi Macet Mudik
Megawati Kirim Surat Pribadi ke Pemimpin Tertinggi Iran, Soroti Warisan Bung Karno
Satlantas Bekasi Tutup 30 Titik Putar Balik di Jalur Pantura Antisipasi Macet Mudik
Patrick Kluivert dan Clarence Seedorf Ditunjuk Jadi Penasihat Teknis Timnas Suriname