"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh blokade ini akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut,"
imbuhnya. Seruan ini bukan tanpa alasan. Perang antara AS-Israel dengan Iran, yang pecah akhir bulan lalu, benar-benar melumpuhkan arteri energi dunia.
Sebelum konflik meletus, bayangkan, sekitar seperlima dari minyak mentah yang beredar di planet ini harus melewati selat sempit itu setiap harinya. Itu volume yang sangat besar. Bukan cuma minyak, sebenarnya. Gas alam, pupuk, bahkan helium untuk balon semua mengandalkan Hormuz sebagai jalur utama ekspor.
Kini, semuanya terhenti. Trump sepertinya ingin beban ini ditanggung bersama. Apakah seruannya akan ditanggapi? Itu pertanyaan besar. Yang pasti, dunia sedang menunggu dengan napas tertahan, sambil memandang ke arah Teluk Persia yang mencekam.
Artikel Terkait
Polisi Dugaan Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Lebih dari Dua Orang
Negara-Negara Arab Teluk Rugi Rp256 Triliun Akibat Penutupan Selat Hormuz
Lebaran 2026: 459.570 Kendaraan Sudah Tinggalkan Jakarta, Puncak Arus Mudik Masih Menanti
Michael Bloomberg Kembali Jadi Filantrop AS Terbesar dengan Sumbangan Rp72 Triliun