Harga emas dunia sedang melonjak, dan di tengah tren ini, Kementerian Perindustrian punya fokus lain: memastikan kualitas emas dalam negeri benar-benar terjaga. Ini bukan sekadar urusan standar, tapi soal kepercayaan. Dan kepercayaan itulah yang nantinya mendongkrak permintaan serta produksi industri perhiasan lokal.
Menurut sejumlah pelaku industri, peningkatan mutu dan akurasi pengujian kadar emas memang faktor kunci. Tanpa itu, sulit menjaga kepercayaan pasar, apalagi ingin bersaing di kancah global yang ketat.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melihat peluang besar. Sepanjang 2025, kinerja industri perhiasan Indonesia ternyata cukup moncer. Angka ekspornya mencapai USD9,1 miliar atau sekitar Rp153,6 triliun. Itu artinya naik signifikan, sekitar 65,54 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa sektor industri perhiasan Indonesia memiliki peluang besar untuk terus tumbuh di pasar internasional,” ujar Agus di Jakarta, Senin (9/3/2026).
“Momentum positif ini harus dijaga melalui penguatan kualitas dan kepercayaan terhadap produk dalam negeri,” tegasnya.
Namun begitu, pertumbuhan yang pesat harus diimbangi dengan kepastian. Menperin menekankan, akurasi pengujian kadar emas tidak bisa dianggap remeh. Peran laboratorium pengujian dinilainya sangat strategis untuk memastikan setiap produk yang beredar punya standar jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
Nah, sebagai bagian dari upaya konkret, pemerintah kini mendorong keterlibatan lebih banyak laboratorium dan pelaku industri dalam program Penyelenggara Uji Profisiensi (PUP). Intinya, program ini ingin menguji dan membandingkan kemampuan laboratorium secara objektif. Hasilnya? Pengujian yang lebih akurat, konsisten, dan tentu saja, terpercaya.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, punya penjelasan. “Program Uji Profisiensi ini sangat penting bagi laboratorium perusahaan industri yang melakukan pengujian mutu emas untuk menunjukkan keabsahan hasil uji mereka,” katanya.
“Yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing industri emas nasional di pasar global,” tutur Emmy.
Pelaksanaan teknisnya ditangani oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB). Menariknya, program untuk komoditas emas ini disebut-sebut sebagai yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bisa jadi rujukan nasional, lah.
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menyebut program ini terbuka untuk banyak pihak. Baik industri, instansi swasta, maupun pemerintah. Bahkan laboratorium yang belum terakreditasi pun bisa ikut serta.
Manfaatnya beragam. Mulai dari pemenuhan klausul standar internasional, evaluasi kinerja internal laboratorium, hingga memastikan akurasi data. BBSPJIKB sendiri mengundang lebih banyak laboratorium yang bergerak di pengujian emas untuk bergabung.
“Program ini menggunakan skema simultan, yakni objek uji didistribusikan untuk pengujian secara bersamaan dalam periode waktu yang telah ditetapkan,” jelas Zya.
Dengan metode itu, hasil dari tiap laboratorium bisa dibandingkan secara objektif. Lebih terukur, dan yang pasti, transparan.
Harapannya jelas. Dengan sistem pengujian yang makin kuat, industri perhiasan nasional tak cuma bisa mengejar momentum pasar global. Tapi juga perlahan membangun reputasi sebagai produsen perhiasan berkualitas tinggi. Reputasi yang mahal harganya.
Artikel Terkait
Kuartal I-2026: 633 Perusahaan Baru Bangun Pabrik, Serap 219.684 Tenaga Kerja dan Investasi Rp418 Triliun
Menlu Iran Tiba di Pakistan, Pertemuan Langsung dengan Delegasi AS Dipastikan Batal
Pedagang Rujak di Cirebon Berangkat Haji Setelah 27 Tahun Menyisihkan Recehan
Timnas Indonesia U-17 Hadapi China di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026, RCTI Siarkan Langsung