Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin

- Sabtu, 25 April 2026 | 06:35 WIB
Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa manusia yang alami, sesuai dengan instruksi yang diberikan:

Seorang pria tiba-tiba menyiramkan cairan merah ke arah Reza Pahlavi. Kejadian itu berlangsung di Berlin, Jerman, saat mantan putra mahkota Iran tersebut sedang menyapa para pendukungnya. Di lokasi yang sama, ada pula aksi unjuk rasa yang menentang kehadirannya.

Waktu itu, Pahlavi baru saja selesai menggelar konferensi pers di Gedung Bundespressekonferenz semacam pusat pertemuan pers pada Kamis (23/4). Ia berjalan di trotoar, masih rapi dengan setelan jas lengkap, ditemani tim keamanan. Suasana mungkin masih ramai, orang-orang berkerumun. Lalu, dari arah belakang, seorang pria bawa ransel mendekat.

Dalam video yang beredar, terlihat jelas momen itu. Tanpa peringatan, si pria melemparkan cairan merah ke arah Pahlavi. Kena di bagian belakang kepala, leher, dan jasnya. Warnanya merah menyala. Banyak yang menduga itu saus tomat, tapi belum ada konfirmasi resmi.

Namun begitu, reaksi Pahlavi justru mengejutkan. Pria berusia 65 tahun itu sama sekali tidak tampak terusik. Ia tetap tenang, bahkan masih sempat melambaikan tangan ke arah pendukungnya yang bersorak di sepanjang trotoar. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Personel keamanan yang sigap langsung bergerak cepat. Pelaku langsung diamankan di tempat. Siapa orangnya? Identitasnya tidak diungkap ke publik. Motif di balik serangan ini pun masih gelap, belum ada kejelasan.

Perlu dicatat, Pahlavi bukanlah sembarang tokoh. Ia adalah putra dari Shah terakhir Iran. Kini ia menjadi salah satu figur oposisi yang vokal. Dalam konferensi persnya di Jerman itu, ia bahkan menyerukan agar negara-negara Barat ikut serta dalam perang yang tengah dikobarkan AS dan Israel melawan Iran. Sebuah pernyataan yang tentu saja kontroversial.

Di sisi lain, ia juga melontarkan kritik pedas. Pemerintah Jerman, menurutnya, memilih untuk tidak mengadakan pertemuan resmi dengannya selama kunjungan ke Berlin. Keputusan itu jelas membuatnya kecewa, dan ia tidak segan-segan menyuarakannya di depan publik.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar