Perdagangan di Bursa Efek Indonesia mendadak dihebohkan dengan penghentian sementara empat saham pada Senin pagi. Langkah ini diambil BEI menyusul lonjakan harga yang dianggap tak wajar dalam beberapa hari terakhir. Emiten yang terkena dampaknya adalah PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT MD Entertainment Tbk (FILM), dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA). Mulai sesi pertama hari ini, keempatnya tak lagi bisa diperdagangkan baik di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.
Menurut pengumuman resmi Bursa, keputusan ini berlaku mulai 8 Desember 2025. Suspensi akan berlangsung sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Intinya, perdagangan saham-saham itu dikunci untuk sementara waktu.
“Bursa memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham YELO, ROCK, FILM, dan MINA mulai sesi I tanggal 8 Desember 2025 sampai dengan pengumuman Bursa lebih lanjut,”
Begitu bunyi pernyataan resmi yang dirilis BEI.
Lonjakannya memang cukup fantastis. Sebelum dijeda, performa keempat saham itu benar-benar menyala. Ambil contoh saham ROCK, yang melesat hampir 25 persen hanya dalam sehari, tepatnya di penutupan Jumat lalu, hingga menyentuh level Auto Rejection Atas (ARA). YELO juga tak kalah panas, menguat 17,19 persen ke level Rp150. Sementara FILM dan MINA masing-masing naik 5,01 persen dan 14,55 persen.
Kalau dilihat dari pergerakan sepekan, grafiknya bahkan lebih dramatis lagi. Saham ROCK nyaris menggandakan nilainya dengan kenaikan fantastis 94,71 persen. YELO, FILM, dan MINA juga menunjukkan tren bullish dengan penguatan berturut-turut 21,95 persen, 21,21 persen, dan 18,45 persen dalam periode yang sama. Pergerakan seperti inilah yang tampaknya memicu kekhawatiran Bursa.
Langkah suspensi semacam ini sebenarnya bukan hal baru. BEI kerap mengambil tindakan preventif ketika melihat gejolak harga yang terlalu tajam dan di luar kewajaran. Tujuannya jelas: mendinginkan pasar sejenak, memberi waktu bagi investor untuk menimbang ulang, dan mencegah potensi kerugian yang lebih luas akibat volatilitas ekstrem. Sekarang, semua mata tertuju menunggu pengumuman berikutnya dari BEI mengenai kapan perdagangan keempat saham ini akan dibuka kembali.
Artikel Terkait
Likuiditas Nasional Tembus Rp10.415 Triliun pada Mei 2026, BI Catat Pertumbuhan M2 Melonjak 10,8 Persen
Dolar AS Menguat, Yen Tertekan Mendekati Level Terendah Empat Dekade
Pemilik Baru SONA Wajib Lakukan Tender Offer, Harga Beli Saham Ditetapkan Rp2.284 per Lembar
Bursa Asia Bervariasi, Nikkei dan Kospi Terkoreksi di Tengah Tekanan Saham Teknologi