Tarif Nol Persen AS Buka Peluang Ekspor, Tapi Daya Saing Jadi Kunci

- Minggu, 08 Maret 2026 | 16:20 WIB
Tarif Nol Persen AS Buka Peluang Ekspor, Tapi Daya Saing Jadi Kunci

Pendapat senada datang dari Sofyan Herbowo, Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia. Ia menekankan bahwa kesiapan kapasitas industri adalah faktor kunci, bahkan mungkin sama pentingnya dengan kebijakan tarif itu sendiri.

Untuk komoditas unggulan macam CPO, posisi Indonesia masih kuat. "Kita masih jadi salah satu produsen terbesar dunia, punya pengaruh dalam pembentukan harga global," kata Sofyan.

Namun begitu, untuk industri dengan rantai pasok yang rumit dan panjang seperti tekstil, butuh waktu dan strategi penyesuaian yang matang. Tidak bisa instan.

Pada intinya, para pengamat sepakat. Tarif nol persen dari ART adalah peluang signifikan, tapi bukan jaminan otomatis ekspor kita melonjak. Tauhid mengingatkan agar kita tidak silau dengan angka 1.819 pos tarif. "Walaupun tarif ekspor jadi 0 persen, belum tentu ekspor kita langsung meningkat kalau kapasitas dan daya saing industri belum siap," tegasnya.

Ia bahkan punya kajian yang memprediksi skenario kurang optimis. Dengan mengacu pada model analisis dari IPB, dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian tertentu, ekspor Indonesia bisa turun sekitar 1,58 persen. Impor malah diproyeksikan naik 1,51 persen.

Dampaknya, PDB Indonesia berpotensi terkoreksi tipis, sekitar 0,41 persen. Sementara AS justru diproyeksikan tumbuh 6,54 persen. Yang perlu diwaspadai, neraca perdagangan kita bisa tertekan defisit sekitar USD5,7 miliar. Itu belum termasuk komitmen pembelian komoditas AS senilai USD38,4 miliar yang tercantum dalam perjanjian.

Jadi, jalan menuju manfaat penuh dari ART masih panjang. Semuanya kembali ke tangan industri dalam negeri dan kebijakan pendukungnya.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar