Pendapat senada datang dari Sofyan Herbowo, Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia. Ia menekankan bahwa kesiapan kapasitas industri adalah faktor kunci, bahkan mungkin sama pentingnya dengan kebijakan tarif itu sendiri.
Untuk komoditas unggulan macam CPO, posisi Indonesia masih kuat. "Kita masih jadi salah satu produsen terbesar dunia, punya pengaruh dalam pembentukan harga global," kata Sofyan.
Namun begitu, untuk industri dengan rantai pasok yang rumit dan panjang seperti tekstil, butuh waktu dan strategi penyesuaian yang matang. Tidak bisa instan.
Pada intinya, para pengamat sepakat. Tarif nol persen dari ART adalah peluang signifikan, tapi bukan jaminan otomatis ekspor kita melonjak. Tauhid mengingatkan agar kita tidak silau dengan angka 1.819 pos tarif. "Walaupun tarif ekspor jadi 0 persen, belum tentu ekspor kita langsung meningkat kalau kapasitas dan daya saing industri belum siap," tegasnya.
Ia bahkan punya kajian yang memprediksi skenario kurang optimis. Dengan mengacu pada model analisis dari IPB, dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian tertentu, ekspor Indonesia bisa turun sekitar 1,58 persen. Impor malah diproyeksikan naik 1,51 persen.
Dampaknya, PDB Indonesia berpotensi terkoreksi tipis, sekitar 0,41 persen. Sementara AS justru diproyeksikan tumbuh 6,54 persen. Yang perlu diwaspadai, neraca perdagangan kita bisa tertekan defisit sekitar USD5,7 miliar. Itu belum termasuk komitmen pembelian komoditas AS senilai USD38,4 miliar yang tercantum dalam perjanjian.
Jadi, jalan menuju manfaat penuh dari ART masih panjang. Semuanya kembali ke tangan industri dalam negeri dan kebijakan pendukungnya.
Artikel Terkait
Commuter Line Merak Berhenti di Cilegon Sementara, Antisipasi Arus Mudik Lebaran
SKK Migas dan Kontraktor Tandatangani Amendemen PJBG, Lifting Minyak Diproyeksi Naik 11.693 Barel per Hari
Calon Komisioner OJK Soroti Ancaman Siber dan Rendahnya Literasi Keuangan
Persiapan Mudik: Lima Pengecekan Kendaraan Wajib untuk Hindari Mogok di Jalan