Dia melanjutkan, model pengelolaan sampah terpadu yang terintegrasi dengan jaringan listrik ini bakal memberi manfaat lingkungan yang lebih luas. Tidak cuma menghasilkan listrik, tapi juga berpengaruh pada aspek sosial dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
“Jadi WTE ini adalah program pengelolaan lingkungan yang hasilnya secara ekonomi bisa berupa listrik,” ujarnya.
Yang menarik, kehadiran PLTSa ini bahkan berpotensi menghilangkan kebutuhan akan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Soalnya, sampah bisa diproses langsung. “Tentu saja ini butuh dukungan semua pihak. Ini adalah sebuah gerakan akan sadar bahwa sampah sudah menjadi masalah kehidupan kita,” terang Fadli.
Memang, kenapa perusahaan China yang menang? Rupanya, portofolio kedua perusahaan itu cukup solid. Zhejiang Weiming Environment Protection, contohnya, sudah mengoperasikan 50 unit pembangkit serupa di negaranya. Wangneng Environment juga punya pengalaman dengan 30 unit pembangkit.
Menurut Fadli, keberhasilan China mengubah sampah menjadi energi layak ditiru. Teknologi mereka canggih dan terus berkembang, apalagi pengembangan WTE di sana sudah dimulai sejak dua dekade lalu.
“Dengan adanya proyek PLTSa dengan teknologi termutakhir, mereka bisa mengatasi sampah. Saat ini, kurang lebih ada 1.000 titik PLTSa di China. Bahkan, China sampai kekurangan sampah untuk diproduksi di PLTSa,” katanya.
Jadi, selain menyelesaikan masalah sampah, proyek ini juga membawa harapan baru untuk pasokan energi dan dampak ekonomi yang luar biasa. Semoga saja eksekusinya berjalan mulus.
Artikel Terkait
Jasindo Gelar Layanan Kesehatan dan Santunan untuk Jemaah Istiqlal di Ramadan
Lalu Lintas Selat Hormuz Anjlok Drastis Imbas Konflik Iran-AS
Bank Dunia: Ukraina Butuh Dana Rp9.900 Triliun untuk Rekonstruksi Pascaperang
Melly Goeslaw Kirim Doa untuk Vidi Aldiano, Almarhum Berpulang Setelah Lama Lawan Kanker