Namun begitu, menaikkan harga BBM bukanlah pilihan pertama. Purbaya menyebut langkah itu sebagai opsi terakhir. Prioritas utama justru ada di realokasi belanja negara. Proyek-proyek fisik yang belum krusial mungkin ditunda. Pengadaan barang yang kurang mendesak bisa di geser dananya. Intinya, belanja akan difokuskan pada program yang dampaknya langsung terasa buat masyarakat, seperti bantuan sosial.
“Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” tuturnya lagi.
Logikanya sederhana: jika ruang fiskal sudah benar-benar sempit, maka pembagian beban antara negara dan rakyat menjadi keniscayaan. Ini semacam burden sharing untuk menjaga stabilitas APBN di tengah badai krisis energi.
Jadi, skenarionya berlapis. Mulai dari mengencangkan ikat pinggang anggaran, menunda belanja, baru kemudian jika situasi memaksa menyentuh harga di pom bensin. Semua masih dalam tahap pertimbangan, tapi sinyalnya sudah jelas. Pemerintah waspada. Dan publik pun sebaiknya mulai mempersiapkan diri.
Artikel Terkait
5 Destinasi Hits di Padalarang yang Mudah Diakses via Kereta Cepat KCIC
Negosiasi Konser BTS di JIS Masuk Tahap Mendalam, Kepastian April 2026
PNM Gelar Program Ramadan Madani untuk Tebar Santunan dan Edukasi Anak
Menkeu Siapkan Injeksi Likuiditas Rp100 Triliun dengan Skema Fleksibel