Lalu, apa saja yang bisa dilakukan? Selain fokus pada manufaktur, penguatan UMKM jadi salah satu jalannya. Mereka butuh pembiayaan yang baik untuk sektor riil. Tak kalah penting, mendorong UMKM agar terintegrasi ke dalam rantai pasok industri besar. Sinergi semacam ini bisa jadi game changer.
Di sisi lain, data yang diungkapkan Emillya Soesanto, Deposit, Wealth Management and Training Head UOB Indonesia, cukup mengkhawatirkan. Jumlah kelas menengah Indonesia terus merosot.
“Dari 57,3 juta jiwa di 2021, turun jadi 47,9 juta di 2024, dan 46,7 juta di 2025,” jelasnya.
Padahal, peran kelompok ini amat vital. Mereka adalah kontributor utama konsumsi rumah tangga, dengan porsi mencapai 81 persen. Menyusutnya jumlah mereka bukanlah tanda yang baik bagi gairah ekonomi secara keseluruhan.
Jadi, jalan keluarnya harus komprehensif. Manufaktur jadi pengungkit, didukung oleh UMKM yang kuat, dengan tujuan akhir yang jelas: menjaga daya beli dan menghentikan penyusutan kelas menengah pondasi nyata perekonomian kita.
Artikel Terkait
Polres Jakpus Bongkar Jaringan Narkoba, 109 Kg Sabu dan Ratusan Ribu Butir Obat Berbahaya Disita
Iran Tegaskan Penolakan Gencatan Senjata, Sebut AS dan Israel Iblis
Megawati Berhalangan Hadir di Istana karena Terikat Agenda di Bali
Jadwal Buka Puasa di Tangerang dan Tangerang Selatan Berbeda 9 Menit