Kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco, yang terletak di pesisir Teluk Persia, terpaksa berhenti beroperasi Senin pagi. Penyebabnya? Serangan drone yang diklaim berasal dari Iran. Penutupan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan standar menyusul insiden tersebut.
Menurut sejumlah saksi, situasi di lapangan sudah bisa dikendalikan. "Situasi terkendali," begitu kata seorang sumber dalam laporan Reuters. Meski begitu, guncangannya langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent langsung meroket, menyentuh level 80 dolar AS per barel begitu kabar serangan beredar.
Ini bukan insiden kecil. Ras Tanura bukan sembarang kilang. Fasilitas ini adalah salah satu yang terbesar di seluruh kawasan Timur Tengah, dengan kapasitas olah mencapai 550 ribu barel minyak mentah setiap harinya. Penutupannya, meski sementara, pasti punya dampak signifikan.
Di sisi lain, serangan ini seperti mempertegas eskalasi yang sudah memanas. Kawasan Teluk kini semakin terseret dalam ketegangan terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Serangan drone serta rudal Iran belakangan ini kerap menyasar negara-negara Arab di wilayah tersebut, menambah daftar panjang konflik regional yang rumit.
Saat ini, tim dari Saudi Aramco masih melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka memeriksa ada tidaknya kerusakan pada fasilitas kilang sebelum memutuskan kapan operasi bisa kembali normal. Semuanya dilakukan dengan hati-hati.
Artikel Terkait
Pemerintah Andalkan Ramadan dan Stimulus untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi 2026
Polri Prediksi Jumlah Pemudik Lebaran 2026 Turun 1,75 Persen
Polisi: Aksi Motor Lawan Arus di Cakung Ditegur, Pengaturan Terbatas karena e-TLE
Kapolri Ungkap Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas, Namun Jam 09.00-12.00 Tetap Rawan