Sabtu lalu, langit di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat dan Israel dikabarkan melancarkan serangan ke wilayah Iran. Berita ini, seperti dilansir dari laman Investing, langsung membuat sejumlah negara tetangga khususnya negara-negara Arab Teluk yang kaya minyak siaga penuh. Kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas terasa menggantung.
Reaksi di lapangan pun cepat. Beberapa raksasa minyak dan perusahaan perdagangan utama memilih untuk menunda pengiriman. Rute vital Selat Hormuz, jalur laut yang super sibuk, tiba-tiba sepi dari lalu lintas kapal tanker minyak mentah dan bahan bakar. Tindakan pencegahan ini jelas bukan tanpa alasan.
Menurut Jorge Leon, Wakil Presiden Senior dan Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, situasinya memang pelik.
"Memang ada infrastruktur alternatif di Timur Tengah yang bisa dipakai untuk menghindari Selat Hormuz," ujarnya.
"Tapi dampak gangguan di selat itu sendiri bisa sangat besar: potensi hilangnya pasokan minyak mentah mencapai 8 sampai 10 juta barel per hari. Angka yang fantastis."
Leon juga menambahkan, negara-negara yang punya cadangan minyak strategis mungkin akan turun tangan jika gangguan ini berlarut-larut dan mengancam stabilitas pasokan global. Dia memberi peringatan yang cukup tegas.
"Kecuali ada sinyal de-eskalasi yang muncul dengan cepat, kami perkirakan harga minyak akan melonjak signifikan di awal minggu," tuturnya.
Prediksinya nyaris pasti. Saat pasar dibuka nanti, harga minyak dipastikan langsung meroket. Jika ketegangan masih berlanjut hingga Minggu, kenaikan bisa berkisar 5 hingga 10 dolar AS di atas harga dasar saat ini yang sekitar 73 dolar AS. Apalagi jika isu tentang Iran menutup Selat Hormuz dan gangguan pada kapal tanker semakin kencang.
Namun begitu, skenario terburuk mungkin baru akan benar-benar dihadapi pasar pada hari Senin. Brent, patokan minyak dunia, disebut-sebut berpotensi menyentuh level psikologis 100 dolar AS per barel. Bayangan itu muncul karena pasar sedang bergulat dengan ancaman gangguan pasokan di tengah situasi keamanan yang makin runyam.
Pendapat senada datang dari Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Asia. Dia menilai harga minyak kemungkinan akan bertahan di level tinggi. Alasannya sederhana namun mengkhawatirkan: fasilitas produksi dan jalur pelayaran di kawasan itu sangat rentan jadi target serangan atau gangguan.
Dalam kondisi seperti ini, tekanan juga bakal membesar di pundak OPEC. Organisasi negara pengekspor minyak itu mungkin akan didesak untuk menambah produksi, berusaha menutupi kekosongan yang mungkin terjadi dan menstabilkan pasar. Tapi, apakah itu cukup? Itu pertanyaan besar yang jawabannya masih tersembunyi di balik asap konflik.
Artikel Terkait
AS Cabut Keringanan Sanksi Minyak untuk Iran dan Rusia
Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal RI Kuat
Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Andalkan Cadangan Fiskal Rp420 Triliun
Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Penipuan Online Lintas Negara, Rugikan Korban Puluhan Miliar