Pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Menanggapi penyelidikan antisubsidi AS terhadap industri panel surya dalam negeri, mereka siap membela mati-matian. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kepentingan nasional akan dikawal hingga putusan akhir nanti.
“Proses ini sepenuhnya berbasis data dan fakta,” ujar Budi Santoso lewat keterangan tertulis, Jumat lalu.
“Kami bersikap kooperatif dan transparan agar semua tahapan berjalan sesuai aturan. Tapi jangan salah, kami akan terus mengawal industri kita sampai semua selesai.”
Langkah ini diambil setelah Departemen Perdagangan AS (USDOC) mengumumkan pengenaan Bea Masuk Imbalan Sementara. Tarifnya untuk Indonesia cukup bervariasi, mulai dari 85,99 hingga 143,30 persen untuk produk sel photovoltaic silikon kristalin, baik yang sudah dirakit jadi modul atau belum. Intinya, panel surya kita kena.
Menariknya, kalau dibandingkan negara ASEAN lain, posisi kita ternyata lebih ringan. Malaysia kena 14-168 persen, Vietnam 68-542 persen, dan Thailand 99-263 persen. Bahkan Kamboja harus menanggung tarif fantastis di atas 3.400 persen.
“Perbandingan ini menunjukkan posisi Indonesia relatif lebih moderat,” kata Mendag, menyikapi angka-angka tersebut.
Namun begitu, perjalanan masih panjang. Penyelidikan antisubsidi ini baru tahap sementara dan diprediksi baru berakhir Juli 2026 mendatang.
Sejak kasus ini bergulir Agustus tahun lalu, pemerintah mengklaim telah merespons dengan baik. Mereka menyodorkan jawaban kuesioner, lengkap dengan data pendukung dan klarifikasi teknis tepat waktu. Tujuannya jelas: menghindari metode Adverse Facts Available (AFA).
Metode AFA itu ibarat pedang bermata dua. Jika suatu negara dianggap tidak kooperatif, otoritas penyelidik berhak pakai data yang mereka miliki sendiri. Alhasil, tarif yang dikenakan bisa melambung tinggi.
“Dalam mekanisme trade remedies WTO, kelengkapan dan akurasi data itu faktor krusial,” tegas Budi Santoso.
Artikel Terkait
KBRI Teheran Pantau 329 WNI di Iran Usai Ketegangan Militer
Kominfo Luncurkan Layanan DARA untuk Tangani Kecanduan Gim pada Anak
Delapan Negara Timur Tengah Tutup Wilayah Udara Imbas Eskalasi AS-Israel-Iran
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel Ganggu Lalu Lintas Minyak di Selat Hormuz