Kilang Dumai dan Balongan Siap Produksi Avtur Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:40 WIB
Kilang Dumai dan Balongan Siap Produksi Avtur Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah

Setelah sukses di Cilacap, dua kilang Pertamina lainnya kini bersiap memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Kilang Dumai dan Kilang Balongan akan segera mereplikasi proses pembuatan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang bahan bakunya berasal dari minyak jelantah atau used cooking oil (UCO).

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Roberth MV Dumatubun, menegaskan komitmen perusahaan. "Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi PertaminaSAF dari kilang-kilang eksisting," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/2/2026).

"Keberhasilan Kilang Cilacap akan kami replikasi di Kilang Dumai dan Kilang Balongan."

Namun begitu, prosesnya tak bisa asal jalan. Roberth menekankan bahwa semua tahapan produksi di kedua kilang itu harus memenuhi kaidah dan regulasi yang berlaku. Syukurlah, langkah awal sudah berhasil dilalui.

Baru-baru ini, Kilang Dumai dan Balongan secara resmi meraih dua sertifikasi keberlanjutan internasional sekaligus: International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) Europe Union (EU) dan skema CORSIA untuk penerbangan internasional. Pencapaian ini bukan sekadar formalitas.

“Ini merupakan pencapaian penting dalam pengembangan energi rendah karbon dan kemandirian energi,” kata Roberth.

Memang, sertifikasi itu adalah milestone krusial. Tanpanya, bioavtur yang dihasilkan tidak akan diakui sebagai SAF di pasar global. Maskapai penerbangan dan konsumen internasional pun pasti menolaknya. Dengan sertifikasi di tangan, jalan menuju produksi massal terbuka lebar.

“Dengan penambahan kilang yang mampu memproduksi bioavtur PertaminaSAF, tentu akan semakin meningkatkan optimisme kita dalam memastikan peta jalan penggunaan SAF di Indonesia,” tambah Roberth penuh keyakinan.

Langkah ini jelas bagian dari strategi besar. Pertamina tak hanya mengoptimalkan aset eksisting, tapi juga memperluas portofolio bisnis rendah karbon. Semua sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong kemandirian energi dan rencana mandatori SAF.

Persiapannya sendiri sudah berjalan cukup panjang. Mulai dari penyesuaian infrastruktur kilang, kerja sama dengan pemasok minyak jelantah, penyiapan peralatan analisis, pengembangan katalis khusus, hingga pemenuhan proses sertifikasi yang rumit tadi.

“Dengan raihan ini, saat ini seluruh rantai pasok PertaminaSAF di PPN sudah mendapatkan sertifikasi internasional keberlanjutan ISCC,” jelas Roberth.

Rincian sertifikasinya sendiri bisa dicek langsung di website ISCC.

Dengan segala persiapan yang sedang digenjot, targetnya jelas. Kilang Dumai dan Balongan ditargetkan siap melakukan uji coba pengolahan minyak jelantah menjadi SAF bersertifikat pada tahun 2026 mendatang. Momen yang pasti dinantikan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar