Di sisi lain, likuiditas yang lebih longgar punya efek domino yang baik. Transmisi kebijakan fiskal pemerintah ke masyarakat dan pelaku usaha diharapkan bisa berjalan lebih lancar. Uang negara bisa lebih cepat menyentuh sektor-sektor yang membutuhkan.
Secara total, BRI mengelola dana SAL sekitar Rp80 triliun. Porsi terbesarnya, Rp55 triliun, merupakan bagian dari program Himbara senilai Rp200 triliun. Sementara, Rp25 triliun sisanya bersifat jangka pendek. Yang menarik, seluruh dana itu konon sudah disalurkan menjadi pinjaman.
Dan penyalurannya punya karakter yang khas. Hampir setengahnya, mendekati 50 persen, diarahkan untuk segmen mikro. Baru kemudian menyasar ke segmen kecil-menengah (SME), konsumer, dan korporasi. Dari sisi sektor, fokusnya jelas ke sektor riil: perdagangan, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Jadi, dampaknya diharapkan bisa langsung terasa di lapangan.
Dengan tenor yang kini lebih panjang, optimisme untuk mendorong pertumbuhan kredit tentu membesar. Farida pun merasa yakin. Namun begitu, dia juga mengingatkan satu hal penting.
Pertumbuhan kredit tak cuma soal ketersediaan dana dari bank. Semuanya kembali lagi pada permintaan dari sektor riil. Kalau demand-nya lesu, supply yang melimpah pun bisa jadi kurang berguna. Jadi, ini soal kerja sama semua pihak.
Pada akhirnya, perpanjangan tenor SAL ini seperti suntikan semangat. Ia memperkuat pondasi likuiditas, memberi kepastian, dan membuka ruang untuk bergerak lebih agresif. Tentu, dengan catatan bahwa kondisi ekonomi riil juga mendukung.
Artikel Terkait
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa
OJK dan Pemerintah Inggris Bentuk Kelompok Kerja Strategis untuk Pembiayaan Iklim
IMF Desak AS Kurangi Pembatasan Perdagangan demi Stabilitas Global
KAI Ingatkan Batas Ukuran dan Tarif Kelebihan Bagasi Kereta Jelang Mudik