Yusharto lantas menyoroti peran BRIDA Jateng. Menurutnya, badan ini punya mandat besar sebagai penggerak fungsi penelitian dan pengembangan di daerah. Tugasnya adalah memperbaiki tata kelola riset agar setiap terobosan didahului analisis kebijakan yang matang. Beberapa poin kerjanya antara lain mengintegrasikan riset yang tercecer, mengoptimalkan sumber daya yang ada, dan tentu saja, merancang kebijakan yang adaptif.
Dorongan untuk berinovasi ini rupanya tak lepas dari visi besar nasional: Indonesia Emas 2045. Persaingan global semakin ketat, dan Yusharto mengingatkan agar pemerintah daerah tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang ada.
“Untuk tetap berada di posisi yang sama, kita harus berlari lebih cepat. Dalam konteks inovasi pemerintahan, kita harus terus melakukan pembaruan dan memperkuat tata kelola,” katanya.
Pesan itu jelas. Di tengah target yang maha besar, langkah-langkah kecil berbasis bukti menjadi kunci. Dan semuanya bisa dimulai dari sebuah policy brief yang ditulis dengan baik.
Artikel Terkait
Billy Mambrasar Mundur dari Beasiswa LPDP, Beri Kesempatan ke Anak Bangsa Lain
Pelatih Persija: Fokus pada Konsistensi, Bukan Pergerakan Rival
Pelajar di Kutai Kartanegara Tikam Teman Sekelas Diduga Akibat Bullying
Imsak Jakarta Hari Ini Pukul 04.32 WIB, Disusul Subuh 04.42