Di Istana Basman, Amman, Rabu lalu, Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan Raja Abdullah II dari Yordania. Pertemuan bilateral itu bukan sekadar kunjungan biasa. Intinya jelas: bagaimana Indonesia dan Yordania bisa bersinergi lebih kuat menangani krisis kemanusiaan yang memilukan di Timur Tengah, khususnya Palestina.
Prabowo langsung menekankan poin itu. Menurutnya, koordinasi dan kerja sama strategis antara kedua negara harus diperkuat. Situasi di Gaza, yang terus bergejolak, membutuhkan respons yang cepat dan tepat.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia, atas tawaran dukungan yang baik bagi kontingen kami," ujar Prabowo membuka pembicaraan.
Lalu ia menambahkan, "Kami berharap dapat menjalin koordinasi dan kerja sama yang erat, karena Anda berada paling dekat dengan persoalan di Gaza."
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Prabowo melihat posisi geografis Yordania yang berbatasan langsung dengan wilayah konflik sebagai faktor kunci. Kedekatan itu membuat Amman punya pemahaman situasi yang lebih riil dan mendalam.
Namun begitu, keprihatinannya tidak hanya tertuju ke Gaza. Prabowo juga menyoroti perkembangan di Tepi Barat yang makin memanas. Ia khawatir, gejolak di sana bisa menggagalkan upaya-upaya stabilisasi yang sedang dijalankan.
"Kami sangat prihatin terhadap permasalahan di Tepi Barat," tegasnya.
Artikel Terkait
Progres Sekolah Rakyat Surabaya Capai 45%, Ditargetkan Rampung Sebelum Juni 2026
Iran Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Balas Blokade AS di Hormuz
KPK Tuntut Dua Eks Dirut Pertamina Kasus Korupsi LNG Senilai Rp1,7 Triliun
Persib Bandung Raih Kemenangan Dramatis dengan 10 Pemain Atas Bali United