Di balik semua angka tadi, ada cerita lain yang mungkin justru lebih krusial: transformasi digital. Transaksi melalui Livin’ by Mandiri melonjak hampir 50 persen! Kopra by Mandiri untuk segmen bisnis juga naik 27 persen, sementara transaksi treasury ikut meroket 33 persen. Angka-angka ini jelas bukan kebetulan.
Novita kemudian menjelaskan lebih jauh soal strategi digital ini. Menurutnya, penguatan ekosistem digital melalui Livin’ untuk ritel, Kopra untuk pebisnis, dan Livin’ Merchant untuk UMKM adalah cara mereka menciptakan keunggulan jangka panjang dan memperluas inklusi keuangan.
Sementara itu, dari sisi risiko, kinerjanya juga cukup menggembirakan. Cost of Credit (CoC) turun 21 basis poin menjadi 0,35 persen. Rasio kredit bermasalah atau NPL tetap stabil di level yang rendah, yakni 0,97 persen. Ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit yang dilakukan tidak sembarangan, tapi disertai dengan disiplin manajemen risiko yang ketat.
Sebagai bagian penting dari ekosistem BUMN keuangan dan mitra pemerintah, Bank Mandiri mengaku akan terus memfokuskan pembiayaan pada sektor-sektor prioritas. Tujuannya jelas: mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan memberdayakan UMKM secara nyata.
Menutup pembicaraan, Novita menyampaikan optimisme untuk sisa tahun 2026. Fundamental yang solid dan strategi yang adaptif, menurutnya, adalah kunci untuk menjaga momentum.
(Shifa Nurhaliza Putri)
Artikel Terkait
Lurah Kalisari Dinonaktifkan Diduga Kirim Foto Rekayasa AI Tanggapi Aduan Warga
BGN Tindak Tegas 362 Unit Layanan Gizi di Jawa, 41 Diantaranya dalam 5 Hari
Bareskrim Lacak Aset Tersangka Penipuan PT DSI untuk Restitusi Korban Rp2,4 Triliun
Mentan: Stok Beras Nasional Capai 5 Juta Ton, Tertinggi Sejak Indonesia Merdeka