Apa yang diharapkan Iran sebagai imbalannya? Cukup jelas: pengakuan dari Amerika Serikat atas hak mereka untuk mengembangkan program pengayaan uranium untuk kepentingan damai. Tentu saja, paket kesepakatan itu juga harus mencakup pencabutan berbagai sanksi ekonomi yang selama ini mencekik.
Sementara dari kubu AS, sikap yang ditampilkan juga dualistik. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut bahwa pilihan utama Presiden Donald Trump tetaplah diplomasi.
Tapi dia dengan cepat menambahkan catatan penting: opsi militer tidak pernah dilepas dari meja. Jika diperlukan, kekuatan akan digunakan.
Jadi, pertemuan di Jenewa nanti akan diwarnai dua bahasa: bahasa perdamaian dan bahasa ancaman. Keduanya bercampur, menciptakan alur diplomasi yang rumit dan tak mudah ditebak.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Sarankan Bungkus Daun Pisang di Tengah Lonjakan Harga Plastik
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Deadlock, Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Ganjalan
Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama
KAI Tegaskan Aksi Taruh Batu di Rel Bekasi Bisa Anjlokan Kereta