Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama

- Minggu, 12 April 2026 | 17:30 WIB
Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah: Pernyataan JK Soal Syahid Dicabut dari Konteks, Bukan Ajaran Agama

Febrian Amanda
Ketua Umum Pertama Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia

Media sosial memang luar biasa. Satu video pendek, yang mungkin cuma berdurasi semenit, bisa langsung memicu badai. Narasinya bisa berbelok, maknanya melenceng, dan ujung-ujungnya malah mengancam persatuan yang sudah susah payah kita jaga.

Ambil saja contoh viralnya cuplikan pidato Jusuf Kalla belakangan ini. Ada yang menafsirkan ucapan beliau seolah menyebut bahwa dalam Islam dan Kristen, mati atau mematikan dalam pertikaian dianggap syahid. Ini jelas perlu diluruskan. Dan pelurusan ini harus dilakukan dengan kepala dingin, melihat fakta secara utuh, bukan dari potongan yang sudah dipenggal-penggal.

Kalau kita mau jujur, menurut saya, menuduh pernyataan Pak JK sebagai serangan ke agama tertentu itu sangatlah tidak tepat. Lebih jauh lagi, menuduhnya sebagai provokasi bagi umat Kristiani? Itu sama sekali melenceng.

Mari kita lihat konteksnya. Saat itu, Pak JK sedang membicarakan sejarah kelam konflik di Ambon dan Poso. Yang beliau soroti bukanlah doktrin agama mana pun. Bukan. Yang beliau gambarkan adalah pola pikir, psikologi dari oknum-oknum yang terlibat konflik kala itu. Mereka yang bertikai merasa tindakannya dibenarkan oleh keyakinan yang, sayangnya, sudah disalahtafsirkan.

Ini poin krusial yang sering terlewat: beliau sama sekali tidak mengatakan Islam mengajarkan kekerasan. Pun tidak menyatakan bahwa ajaran Yesus membenarkan pembunuhan.

Yang beliau coba analisis adalah mentalitas dalam konflik horizontal. Jadi, fokusnya pada manusia dan pemahamannya yang keliru, bukan pada ajaran agamanya yang suci.

Memotong pernyataan itu, lalu melepasnya dari bingkai sejarahnya, adalah resep yang sempurna untuk menciptakan polemik baru. Padahal, kalau kita tilik rekam jejaknya, Jusuf Kalla justru figur yang berperan besar memadamkan api konflik.

Beliau adalah arsitek perdamaian. Buktinya nyata. Di Poso, lewat Deklarasi Malino I tahun 2001, beliau mempertemukan pihak Muslim dan Kristen untuk berdamai. Konflik berdarah itu akhirnya bisa dihentikan.

Tak lama setelahnya, melalui Malino II tahun 2002, gelombang kekerasan di Ambon yang telah menelan ribuan nyawa pun berhasil diredakan dan diarahkan menuju rekonsiliasi.

Saya pribadi cukup mengenal beliau. Pernah beberapa kali mendampingi dalam forum dan seminar bertema perdamaian. Juga turut menjembatani pertemuan dengan tokoh-tokoh dari luar negeri untuk membangun dialog.

Dari situ, saya melihat Pak JK sebagai negarawan yang konsisten mengedepankan jalan damai. Selalu memilih dialog dan komunikasi yang beradab untuk menyelesaikan masalah. Sungguh aneh rasanya jika seorang yang punya track record seperti itu tiba-tiba dituding hendak memantik konflik baru.

Lalu, ada juga kekeliruan soal makna kata 'syahid' ini. Sebagai alumni Timur Tengah, saya rasa penting mengembalikannya pada makna aslinya yang luhur.

Secara bahasa, kata 'syahid' berasal dari akar kata Arab syahida, yang artinya menyaksikan atau menjadi saksi. Dalam Islam, istilah ini sangat mulia dan tidak bisa dipakai sembarangan, apalagi untuk membenarkan pembunuhan tanpa alasan.

Makna sejatinya adalah kemuliaan bagi mereka yang wafat dalam kebenaran, dengan niat lurus mempertahankan jiwa, agama, dan kehormatan. Bukan karena kebencian atas identitas orang lain.

Justru Alquran sangat keras menolak pembunuhan.

“Barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Dan orientasi damainya pun jelas.

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61)

Ayat ini menunjukkan dengan terang bahwa Islam adalah agama rahmah, agama yang memuliakan kehidupan. Jadi, ketika Pak JK menyebut persepsi sebagian pihak yang bertikai, itu adalah gambaran sosiologis, bukan definisi teologis.

Beliau sedang membaca sebuah realitas sejarah yang pahit, bukan menetapkan ajaran.

Di zaman sekarang, bahayanya memang ganda. Bukan cuma hoaks yang mengancam, tapi juga pemenggalan konteks. Satu kalimat yang dicabut dari rangkaian pidatonya bisa mengubah citra seorang tokoh perdamaian menjadi provokator. Padahal faktanya berkata lain.

Jusuf Kalla adalah simbol rekonsiliasi. Mustahil beliau bermaksud menstigma agama lain.

Pesan yang seharusnya kita tangkap justru sebaliknya: bahwa kekerasan dan pembunuhan atas nama identitas agama itu selalu salah, dalam pandangan Islam maupun Kristen. Yang kerap bermasalah adalah oknum yang menyalahgunakan agama untuk membenarkan kebencian mereka. Dan itulah yang dulu berhasil dihentikan oleh Pak JK lewat meja perundingan.

Pada akhirnya, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih bijak. Jaga persatuan ini. Rawat kerukunan yang ada. Perkuat tali persaudaraan antarumat beragama, karena kita sama-sama mencintai kedamaian di tanah Indonesia.

Jangan gampang terpancing narasi yang menyulut perpecahan, terutama yang bermain di isu-isu sensitif seperti SARA. Indonesia ini dibangun di atas keberagaman, bukan permusuhan.

Persatuan adalah kekuatan terbesar kita. Dan perdamaian adalah warisan berharga yang harus kita jaga bersama, untuk keutuhan NKRI.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar