Gubernur DKI Sarankan Bungkus Daun Pisang di Tengah Lonjakan Harga Plastik

- Minggu, 12 April 2026 | 18:00 WIB
Gubernur DKI Sarankan Bungkus Daun Pisang di Tengah Lonjakan Harga Plastik

Harga plastik di pasaran dalam negeri tiba-tiba meroket. Banyak yang menyalahkan gejolak politik dan konflik di kawasan Timur Tengah sebagai pemicunya. Mau tak mau, lonjakan ini pun langsung dirasakan oleh para pelaku UMKM dan ibu-ibu rumah tangga yang sehari-hari bergelut dengan kebutuhan kemasan.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui bahwa fenomena kenaikan ini sudah terjadi di Jakarta. Namun begitu, dia dengan tegas menyatakan bahwa Pemprov DKI sama sekali tidak punya kewenangan atau andil dalam menetapkan harga komoditas tersebut.

"Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta,"

Ucap Pramono di Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Di sisi lain, situasi ini justru dilihatnya sebagai sebuah momentum. Pihaknya bertekad untuk terus mencari terobosan agar ketergantungan masyarakat terhadap plastik bisa dikikis. Apalagi, mengurangi pemakaian plastik memang sudah jadi keharusan jika kita ingin lebih serius menjaga lingkungan.

"Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya. Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban,"

tambahnya.

Lalu, solusi seperti apa yang diajukan? Pramono punya usulan yang terdengar klasik, bahkan kembali ke akar tradisi. Dia menyarankan agar masyarakat mulai mempertimbangkan lagi penggunaan bahan-bahan alami, semacam daun pisang, untuk membungkus sesuatu.

"Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya,"

pungkas Gubernur.

Gagasan itu sederhana, tapi di tengah harga yang melambung dan keprihatinan akan sampah, mungkin tidak ada salahnya untuk dicoba kembali.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar