Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Deadlock, Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Ganjalan

- Minggu, 12 April 2026 | 17:40 WIB
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Deadlock, Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Ganjalan

Perundingan panjang antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad akhirnya berujung pada jalan buntu. Setelah hampir sehari penuh berunding, kedua negara itu gagal menemukan titik temu. Bisa dibilang, 21 jam yang melelahkan itu sia-sia belaka.

Dua isu besar menjadi ganjalan utama: program nuklir Iran dan siapa yang mengendalikan Selat Hormuz. Pihak AS bersikeras agar Iran menghentikan semua aktivitas pengayaan uraniumnya. Mereka juga mendorong agar ada pengaturan bersama untuk selat strategis itu, yang menjadi jalur vital minyak dunia. Tapi, tampaknya posisi kedua belah pihak masih terlalu berjauhan.

Dari kubu Iran, suara kekecewaan langsung terdengar. Mohammad Bagher Ghalibaf, Juru Bicara Parlemen yang memimpin delegasi, menyatakan sebenarnya negaranya punya niat baik untuk menghentikan peperangan.

"Tapi karena pengalaman dari dua perang sebelumnya, kami tidak percaya dengan pihak lawan," ujarnya lewat sebuah postingan di media sosial.

Ghalibaf merasa delegasi AS gagal mendapatkan kepercayaan dari timnya selama proses negosiasi berlangsung. Meski begitu, dia menyisipkan apresiasi untuk Pakistan, tuan rumah yang berperan sebagai mediator.

"Saya juga berterima kasih atas upaya negara sahabat dan saudara kami Pakistan, dalam memfasilitasi proses perundingan ini, dan saya menyampaikan salam kepada rakyat Pakistan," tambahnya.

Pernyataan serupa datang dari juru bicara lain. Esmaeil Baqaei dari Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi kepada televisi lokal IRIB bahwa perbedaan pendapat terjadi setidaknya pada dua atau tiga poin krusial. Belum lagi sejumlah isu lain yang juga tidak sepaham.

Meski laporan menyebut Iran tak berminat melanjutkan pembicaraan, Baqaei mencoba tak menutup semua pintu. Dia menekankan bahwa jalur diplomasi dengan Negeri Paman Sam tetap terbuka, sekalipun sempit.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi telah bertolak pulang. Dalam pernyataannya, dia menyalahkan kegagalan ini pada persoalan nuklir Iran.

Vance mengklaim AS sudah mengajukan penawaran terakhir dan terbaik mereka. Sayangnya, syarat-syarat itu ditolak mentah-mentah oleh Iran.

"Saya rasa ini menjadi kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS. Jadi kita kembali pada situasi di mana AS belum mencapai kesepakatan," katanya, dengan nada yang terkesap sedikit sinis.

Proses yang alot ini ternyata juga disorot langsung dari atas. Presiden Donald Trump, dengan gaya khasnya, menyatakan bahwa apapun hasil perundingan ini, posisi AS tidak akan tergoyahkan.

"Alasannya karena kami sudah menang. Kami sedang berunding cukup serius dengan Iran, apapun hasilnya, kami tetap menang. Kami telah mengalahkan mereka secara militer," tegas Trump.

Perundingan ini menghadirkan tim yang cukup berat dari kedua sisi. AS mengirimkan Wakil Presiden Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Sementara Iran datang dengan rombongan besar lebih dari 70 orang, dipimpin oleh Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pertemuan yang megah, tapi hasilnya nol besar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar