Di sisi lain, teknologi ini juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Ia bisa membantu mendeteksi potensi masalah teknis pada sumur produksi sebelum berkembang jadi kendala yang lebih serius.
Menariknya, akar inovasi ini berasal dari riset akademis. Flow2Max® dikembangkan dari studi doktoral Mohamad Husni Mubarok sendiri saat ia menempuh pendidikan di University of Auckland. Kini, penelitian itu tak lagi sekadar teori, tapi siap diimplementasikan di lapangan dunia.
Komitmen kerja sama jangka panjang juga ditegaskan oleh pihak PGE. Jati Permana Kurniawan, Manager Ops. Asset Management & Optimization, menyatakan bahwa kolaborasi dengan EDC akan terus diperkuat.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada implementasi teknologi ini saja. Tapi juga membangun pertukaran pengetahuan dan penguatan kapabilitas teknis bersama. Tujuannya jelas, untuk mendorong kemajuan sektor panas bumi secara global,” kata Jati.
Jadi, langkah PGE ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa. Ini tentang membawa teknologi hasil pemikiran anak bangsa ke panggung yang lebih luas, sekaligus menjalin aliansi strategis dengan pemain kunci di Asia Tenggara. Perjalanannya patut untuk diikuti.
Artikel Terkait
China Larang Ekspor ke 20 Perusahaan Jepang, Sebut Ancaman Keamanan Nasional
Anthropic Tuduh Tiga Perusahaan AI China Curi Data untuk Latih Model
Indonesia dan Arm Jalin Kerja Sama Strategis untuk Kuasai Teknologi Desain Chip
Menhub Proyeksikan Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret