Di sisi lain, patokan yang dipakai Indonesia bukan sembarangan. Negeri ini mengacu pada kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang sudah disepakati forum MABIMS, yang anggotanya Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Syaratnya jelas: hilal harus setinggi minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam, dengan elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Kondisi kemarin jelas jauh dari angka-angka itu.
Menag juga mengingatkan, ada dua hal yang bisa menggagalkan rukyat. “Faktor cuaca, kalau memang tidak bisa kita melihat karena cuacanya buruk. Yang kedua, sekalipun terang benderang, tapi kalau di bawah ufuk kan tidak mungkin kita bisa melihat,” ujarnya. Malam itu, masalahnya adalah poin kedua.
Namun begitu, semua data dan perhitungan ini masih harus menunggu pengesahan resmi. Keputusan final, seperti tradisi tahunan, akan diambil dalam Sidang Isbat yang digelar pemerintah.
Meski demikian, jika merujuk pada fakta bahwa hilal belum memenuhi kriteria, potensi besar Ramadan 1447 H memang akan dimulai pada 19 Februari 2026. Tinggal menunggu pengumuman resmi.
Artikel Terkait
Empat Pekerja Tewas Diduga Keracunan Gas Saat Bersihkan Tangki Air di Jagakarsa
Iran Klaim Tembak Jatuh F-15E dan A-10 AS, Pentagon Bungkam
Trump Tolak Bahas Detail Operasi Penyelamatan Jet AS yang Ditembak Iran
Cadangan Energi Nasional Hanya Bertahan 20 Hari, Pakar UGM Ingatkan Risiko Krisis