Ibu Bogor Temani Anak Cuci Darah Ratusan Kali, BPJS PBI Jadi Penopang Harapan

- Kamis, 12 Februari 2026 | 22:00 WIB
Ibu Bogor Temani Anak Cuci Darah Ratusan Kali, BPJS PBI Jadi Penopang Harapan

MURIANETWORK.COM - Seorang ibu asal Bogor, Siti Hariati (36), dengan setia mendampingi perjalanan panjang putra semata wayangnya melawan penyakit ginjal. Selama dua tahun terakhir, remaja berusia 15 tahun itu harus menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis) dua kali seminggu di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Perjuangan mereka, yang ditopang oleh jaminan kesehatan BPJS PBI, menjadi gambaran nyata ketahanan sebuah keluarga di tengah cobaan kesehatan dan ekonomi.

Perjalanan Panjang Menuju Diagnosis

Perjuangan Siti dan anaknya bermula jauh sebelum diagnosis pasti ditegakkan. Sejak kecil, anaknya kerap mengalami batuk, pilek, dan demam yang dianggap sebagai penyakit biasa. Namun, titik balik terjadi saat anaknya menginjak usia 11 tahun. Saat itu, wajah dan mata anaknya tampak membengkak disertai warna kulit yang pucat. Gejala itulah yang akhirnya membawa mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Dari umur 11 tahun, cuman emang dari kecil dia udah sakit-sakitan terus. Kayak batuk, pilek, sama demam. Cuma nggak deteksi dari kecil mungkin ya, cuman berobat-berobat gitu aja,” kenang Siti.

Serangkaian pemeriksaan, mulai dari tes urine hingga tes darah, akhirnya mengungkap kondisi yang sebenarnya. Hasil laboratorium menunjukkan kadar albumin yang terus turun, sehingga memerlukan transfusi.

“Diambil pipis pertama gitu ya. Terus diambil darahnya. Terus albuminnya sering turun. Jadi ditransfusi albumin,” jelasnya.

Hidup Bergantung pada Hemodialisis Rutin

Diagnosis awal yang diberikan dokter adalah nefrotik sindrom atau kebocoran ginjal. Sayangnya, kondisi tersebut berkembang menjadi gagal ginjal, yang mengharuskan pasien menjalani terapi pengganti ginjal secara rutin. Sejak itu, kehidupan remaja itu dan ibunya berpusat pada jadwal hemodialisis dua kali sepekan di RSCM.

Dua kali dalam seminggu, Siti dengan tekun menemani anaknya bolak-balik dari Bogor ke Jakarta. Dalam sebulan, sedikitnya delapan kali prosedur mereka lalui. Jika diakumulasi selama dua tahun, jumlahnya sudah mencapai ratusan kali.

“Nah, ketahuannya pas udah 11 tahun itu bengkak-bengkak. Matanya bengkak sama mukanya kayak beda gitu, kayak pucet gitu ya,” tutur Siti, menggambarkan momen kekhawatiran yang menjadi awal perjalanan panjang mereka.

BPJS PBI sebagai Penopang Harapan

Di balik keteguhan Siti, terdapat tantangan ekonomi yang tidak ringan. Suaminya bekerja sebagai tukang bangunan dengan penghasilan yang tidak tetap, sementara Siri sendiri adalah ibu rumah tangga. Dalam situasi seperti ini, keanggotaan BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah menjadi penyelamat. Biaya ratusan kali cuci darah yang sangat besar sepenuhnya ditanggung oleh jaminan kesehatan tersebut.

“Di RSCM sudah 2 tahun sih, nggak tahu berapa kalinya, karena banyak ya,” ujarnya, mengakui betapa vitalnya bantuan ini bagi kelangsungan pengobatan anaknya.

Siti sempat mendengar kabar tentang penonaktifan beberapa peserta BPJS PBI, yang sempat membuatnya cemas. Namun, kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Saat digunakan untuk berobat, kartu tersebut tetap aktif.

“Iya, tahu sih. Cuma kayaknya pas saya menggunakan lagi, udah aktif itu kayaknya. Karena saya gak nge-check karena saya gak ngerti. Jadi pas gunain lagi udah aktif,” ungkapnya dengan lega.

Tantangan Administratif dan Harapan ke Depan

Meski secara medis merasa terbantu, Siti mengakui bahwa proses administratif, terutama pendaftaran secara daring, terkadang menjadi kendala tersendiri bagi orang-orang seperti dirinya. Namun, secara keseluruhan, ia menilai prosedur rujukan dan pelayanan di RSCM telah berjalan dengan baik.

“Kadang-kadang ada terkendala juga, kadang-kadang juga enggak gitu ya. Kadang-kadang, yang susah sih buat (pendaftaran) online,” lanjutnya.

Bagi keluarga ini, BPJS PBI bukan sekadar kartu, melainkan penopang harapan yang memungkinkan seorang anak untuk terus bertahan. Atas dasar itulah, Siti menyampaikan harapan agar program jaminan kesehatan sosial ini terus diperkuat dan dipermudah aksesnya bagi masyarakat yang paling membutuhkan.

“Harapan saya sih semoga BPJS kesehatan ini semakin diutamain ya, karena banyak juga yang sakit gitu, karena itu membantu buat orang-orang yang membutuhkan. Harapannya ya semakin dibagusin aja gitu,” pesannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi secara khusus. “Ya, buat Pak Presiden, Pak Prabowo, semoga dibagusin lagi pelayanannya. Terima kasih sudah memudahkan, meringankan buat berobat. Terima kasih banyak,” tutup Siti dengan penuh rasa syukur.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar