Kualitas Aset dan Modal yang Tangguh
Meski penyaluran kredit meningkat, terutama pada segmen korporasi yang tumbuh pesat 11,2%, bank berhasil menjaga kualitas portofolionya dengan ketat. Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) stabil di level 2,1%, sementara rasio Loan at Risk (LAR) justru menunjukkan perbaikan menjadi 4,3%.
Pendekatan konservatif juga terlihat dari pencadangan yang sangat kuat, dengan NPL Coverage mencapai 356%. Kekuatan permodalan bank pun termasuk yang terbaik di industri, dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) 34,6% dan CET-1 sebesar 26,6%, memberikan bantalan yang lebih dari cukup untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Kontribusi Unit Syariah dan Visi Ke Depan
Unit Usaha Syariah (UUS) Permata Bank turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan laba operasional sebelum provisi sebesar 8,1% menjadi Rp785,3 miliar. Rasio CASA di unit syariah bahkan tercatat sangat tinggi, mencapai 73,6%, yang berada di atas rata-rata industri perbankan syariah nasional.
Meliza menegaskan bahwa strategi ke depan tidak hanya berfokus pada skala, tetapi pada relevansi dan nilai jangka panjang bagi nasabah.
“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari, bisnis, dan keluarga mereka,” ungkapnya.
Melalui penguatan kapabilitas digital, inovasi produk, dan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan, pihaknya berkomitmen membangun bank yang bertumbuh secara bertanggung jawab dan tetap dekat dengan nasabah.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Mulai Kunjungan Negara ke Jepang, Temui Kaisar dan PM
Anggaran Diskon Tiket Pelni Terserap 92,5%, Penumpang Capai 431.705 Orang
Jens Raven Gantikan Mauro Zijlstra yang Cedera Jelang Final FIFA Series
BCA Ikut Earth Hour, Layanan Perbankan Tetap Berjalan Normal