MURIANETWORK.COM - Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) menyerukan penguatan kedaulatan industri baja nasional. Seruan ini disampaikan di tengah maraknya proyek pembangunan dalam negeri dan kondisi pasar global yang diwarnai oleh kelebihan pasokan baja impor. Ketua IISIA, Muhamad Akbar Djohan, menegaskan pentingnya industri dalam negeri menjadi tulang punggung pembangunan, bukan sekadar penonton.
Seruan untuk Menjadi Pelaku, Bukan Penonton
Dalam forum Musyawarah Nasional ke-5 IISIA yang digelar Rabu (11/2/2026), Akbar menyampaikan visi yang tegas. Ia menekankan bahwa seluruh rantai pasokan industri, dari hulu hingga hilir, semestinya dikuasai oleh anak bangsa. Hal ini dinilai krusial agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi produk negara lain.
"Kita tidak ingin industri baja nasional hanya menjadi penonton di tengah gempita pembangunan negeri sendiri, kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi karya bangsa lain. Kita bersama-sama ingin dari hulu yang paling dalam hingga hilir yang paling ujung, semua adalah buah dari keringat dan kecerdasan anak bangsa," tegasnya.
Badai Tantangan di Pasar Global
Jalan menuju kedaulatan itu, menurut analisis Akbar, tidaklah mulus. Industri baja nasional saat ini dihadapkan pada sejumlah tantangan berat yang bersumber dari dinamika global. Kelebihan pasokan di pasar dunia, gejolak harga bahan baku yang tak menentu, dan derasnya arus produk impor ke pasar domestik membentuk tekanan yang kompleks.
"Kita menyadari jalan menuju kedaulatan itu tidak bertabur bunga. Namun saat ini kita sedang berada di tengah badai global. Oversupply melanda pasar dunia, fluktuasi harga bahan baku datang silih berganti, dan tekanan produk impor terus mengetuk pintu rumah kita bersama," ungkap Akbar, menggambarkan situasi yang dihadapi para pelaku industri.
Momentum untuk Ditempa dan Diperkuat
Meski berat, tantangan tersebut justru dilihat sebagai kesempatan untuk meningkatkan ketangguhan. Akbar, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, menggunakan analogi yang kuat: baja berkualitas hanya lahir dari proses tempaan yang berulang dalam panas yang tinggi. Dengan semangat serupa, industri nasional didorong untuk bangkit.
"Bukankah baja hanya akan menjadi baja yang kuat setelah ditempa berkali-kali di dalam api yang panas? Di balik tantangan itu Indonesia menyimpan potensi yang luar biasa, proyek infrastruktur yang terus bergerak, hilirisasi yang kian masif, dan geliat manufaktur adalah peluang emas yang menanti untuk kita petik," paparnya dengan penuh keyakinan.
Peringatan akan Ekosistem yang Rapuh
Namun, optimisme itu diiringi dengan peringatan yang realistis. Akbar mengingatkan bahwa geliat pembangunan dan peningkatan permintaan baja bisa menjadi pisau bermata dua. Jika fondasi dan ekosistem industri dalam negeri rapuh, lonjakan permintaan justru akan dibanjiri oleh produk impor, sehingga peluang besar itu terlepas dari genggaman.
"Peluang itu akan sia-sia jika ekosistem kita rapuh. Tanpa fondasi yang pokok, peningkatan permintaan baja hanya akan menjadi pintu masuk bagi produk luar," ujarnya mengingatkan.
Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Untuk mengatasi hal itu, IISIA mendorong terciptanya kemitraan yang lebih erat antara pelaku industri dan pemerintah. Tujuannya adalah membangun iklim usaha yang sehat dan berkeadilan, sehingga industri baja nasional memiliki landasan yang kokoh untuk bersaing. Akbar menutup pernyataannya dengan pesan yang menggugah tentang kekuatan kolaborasi.
"Mari kita pererat kemitraan dengan pemerintah, agar iklim usaha yang sehat dan berkeadilan dapat tercipta. Saya percaya jika kita melangkah bersama, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk kita daki, tidak ada besi yang terlalu keras untuk kita tempa," tutup Akbar.
Artikel Terkait
Heineken PHK 6.000 Karyawan, Saham Justru Naik 3%
Davide Nicola Soroti Masalah Mentalitas Usai Cremonese Lanjutkan Tren Negatif
Arab Saudi Kirim 100 Ton Kurma untuk Ramadan, Sebagian untuk Pembukaan Masjid Raya IKN
Kementerian PU Siapkan Tanggul Permanen untuk Atasi Banjir di Tol Tangerang-Merak