MURIANETWORK.COM - Kinerja perdagangan Indonesia mencatatkan hasil yang solid di tengah ketidakpastian global. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, surplus neraca perdagangan pada 2025 mencapai USD41,05 miliar, tumbuh signifikan 31,03% dari tahun sebelumnya. Capaian ini, yang merupakan surplus bulanan ke-68 berturut-turut, diraih di tengah tantangan proteksionisme dan penurunan harga komoditas, sekaligus menjadi modal optimisme menghadapi dinamika perdagangan dunia di tahun 2026.
Surplus yang Tumbuh di Tengah Tekanan Global
Angka surplus USD41,05 miliar untuk tahun 2025 bukanlah pencapaian yang mudah. Nilai ini muncul dari konteks ekonomi global yang diwarnai oleh kebijakan proteksionisme di berbagai negara dan tren pelemahan harga sejumlah komoditas andalan ekspor. Namun, fakta bahwa surplus justru meningkat lebih dari 30% dari posisi 2024 yang sebesar USD31,33 miliar menunjukkan ketahanan yang patut dicermati. Bahkan pada Desember 2025 saja, Indonesia masih mencatatkan surplus bulanan sebesar USD2,51 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya menyoroti optimisme dari capaian ini. "Neraca perdagangan kita pada 2025 mencatatkan surplus USD41,05 miliar, meningkat hingga 31,03 persen. Tentu banyak tantangan global saat ini yang kita hadapi, tapi kita tetap optimistis bahwa kinerja perdagangan kita akan tumbuh dengan baik. Mudah-mudahan, dalam kondisi apa pun di pasar global, kita dapat terus meningkatkan ekspor," ujarnya.
Ekspor Tumbuh, Struktur Mulai Beragam
Di balik angka surplus, nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan (migas dan nonmigas) tumbuh 6,15% menjadi USD282,91 miliar. Yang lebih menggembirakan, ekspor nonmigas menunjukkan performa lebih kuat dengan pertumbuhan 7,66% menjadi USD269,84 miliar. Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat dengan negara-negara seperti Swiss, Singapura, dan Uni Emirat Arab, serta kawasan seperti Asia Tengah dan Afrika Barat, mengindikasikan upaya diversifikasi pasar yang mulai membuahkan hasil.
“Capaian ekspor 2025 meningkat 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dengan tantangan global yang ada dan harga komoditas yang turun, kita tetap tumbuh,” tegas Budi Santoso.
Dari sisi struktur, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 80,27%. Namun, sinyal positif datang dari sektor pertanian yang mencatatkan peningkatan tertinggi sebesar 21,01%, diikuti industri pengolahan yang tumbuh 14,47%. Pergeseran ini, meski masih kecil, menunjukkan upaya peningkatan nilai tambah.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran, Ruas Tol Semarang Kembali Diberlakukan One Way Lokal
Korban Tewas Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun 30 Persen
1.528 SPPG Disuspensi, Tren Penutupan Turun Usai Peningkatan Kepatuhan SLHS
Prabowo dan Menteri Bahas Percepatan Program Sampah Jadi Energi