Namun begitu, nada bicara Araghchi tak cuma soal inspeksi teknis. Ada rasa tak percaya yang mendalam di baliknya. Dia menegaskan, Iran belum bisa memercayai AS sepenuhnya. Padahal, kedua negara saat ini lagi-lagi terlibat dalam putaran perundingan nuklir baru. Hasilnya? Masih sangat belum pasti.
Rasa curiga ini punya sejarah. Serangan AS tahun lalu itu terjadi justru ketika kedua pihak sedang dalam masa perundingan yang dimediasi Oman. Setelah beberapa kali pertemuan, bukannya kesepakatan yang datang, melainkan serangan. Peristiwa itu terjadi di hari kesepuluh gempuran Israel ke Iran.
Akibatnya bisa ditebak. Kepercayaan Iran kepada AS punah. Mereka merasa dikhianati di tengah jalan.
Menurut Araghchi, AS sudah mencoba berbagai cara untuk menekan Iran, tapi gagal. Kini AS kembali ke meja perundingan. Tapi arah pembicaraan masih gelap. “Kami tidak memercayai mereka. Ada kemungkinan mereka akan menipu. Semua lembaga di Iran harus terus menjalankan tugas, terlepas dari perkembangan ini,” ucapnya.
Pernyataan terakhirnya itu terdengar seperti peringatan. Sebuah indikasi bahwa konflik bisa saja terulang kapan saja.
Artikel Terkait
Negara-negara Asia Antre Minyak Rusia di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Korlantas Prediksi Puncak Arus Balik Gelombang Kedua pada 29 Maret
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Rodri Buka Peluang Gabung Real Madrid Meski Berdarah Atlético