Di sisi lain, dari segi finansial, dampaknya bagi Capgemini terbilang kecil. CGS hanya menyumbang sekitar 0,4 persen dari estimasi pendapatan global mereka di tahun 2025. Bahkan, kontribusinya terhadap pendapatan Capgemini di AS sendiri kurang dari 2 persen. Jadi, secara ekonomi, ini bukanlah pukulan yang berat.
Keterangan lebih lanjut datang dari sang CEO, Aiman Ezzat. Pekan lalu, ia mengaku bahwa perusahaan baru benar-benar memahami detail kontrak CGS dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dan ICE pada Desember 2025. Cukup telat, memang.
Klausul keamanan pemerintah AS-lah yang disebutnya membatasi akses tersebut. Namun begitu, Ezzat menyatakan pihaknya akan melakukan peninjauan ulang. Mereka akan mengkaji isi kontrak, cakupannya, serta prosedur pengadaan yang selama ini berjalan.
Langkah divestasi ini, pada akhirnya, lebih terasa seperti upaya membersihkan nama dan menghindari badai politik yang lebih besar. Capgemini memilih untuk menarik diri dari bisnis yang berpotensi menimbulkan polemik berkepanjangan.
Artikel Terkait
Jakarta Diguyur Hujan, Warga Diimbau Waspada Genangan
DLH Buka Suara Soal Keluhan Bau dari RDF Plant Rorotan
Interpol Indonesia Ungkap Tim Sudah Bergerak ke Negara Persembunyian Riza Chalid
Persija Jakarta Di Ambang Rekrut Penyerang Muda Belanda, Mauro Zijlstra