Di ruang rapat Kementerian ESDM, Jumat lalu, sebuah kesepakatan besar akhirnya ditandatangani. Menteri Bahlil Lahadalia menyaksikan langsung konsorsium yang terdiri dari PT Aneka Tambang (Antam), PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan HYD membubuhkan tanda tangan pada kerangka kerja sama. Momen ini sekaligus menjadi penanda dimulainya proyek ekosistem baterai listrik terintegrasi secara resmi.
Nilai investasinya? Sungguh fantastis. Bahlil menyebut angka sekitar USD 6 miliar, atau jika dirupiahkan, kira-kira Rp 100 triliun. “Proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik,” ujarnya.
“Tapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW. Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya.”
Dengan dana sebesar itu, potensi lapangan kerja yang tercipta bisa mencapai 10 ribu posisi. Rincian lebih lanjut, tentu saja, masih menunggu hasil studi kelayakan yang sedang disusun.
Namun begitu, ada satu prinsip yang ditegaskan menteri dengan sangat jelas: kepemilikan mayoritas harus di tangan Antam sebagai BUMN. Ini adalah amanat dari Pasal 33 UUD 1945 untuk memprioritaskan kepentingan negara dalam pengelolaan sumber daya alam.
“Saya ulangi, arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” tegas Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil tak menampik bahwa pengembangan industri strategis ini masih perlu sokongan dari mitra luar negeri. Terutama untuk urusan transfer teknologi, membuka akses pasar, dan menerapkan manajemen yang profesional. Penandatanganan hari Jumat itu dimaksudkan untuk mempertegas semangat kolaborasi investasi harus menguntungkan semua pihak, tapi prioritas nasional tetap nomor satu.
Skala proyeknya memang ambisius. Kapasitas produksi baterai listrik yang ditargetkan mencapai 20 Giga Watt hour (GWh). Jika semuanya berjalan mulus, ekosistem ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia.
Kolaborasi dengan investor global seperti Huayou dan EVE Energy, bersama perusahaan nasional Antam, IBI, dan DBL, diharapkan bisa memacu alih teknologi. Harapannya, perusahaan dalam negeri kelak bisa benar-benar mandiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Bahlil juga menyoroti peran penting perusahaan daerah. Rencana pembangunan ekosistem ini akan melibatkan pihak-pihak lokal, misalnya mitra di Jawa Barat. Sementara untuk pengembangan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi, lokasinya akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
“Jadi kita, Insyaallah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia,” kata Bahlil dengan nada optimis. Ia menambahkan, semua ini bertujuan untuk penguasaan bahan baku dan baterai mobil, sebagai langkah konkret menuju energi baru terbarukan.
Momentum kerjasama ini jelas sebuah langkah maju. Tinggal menunggu realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun
Malut United Pindah Markas Sementara ke Stadion Jatidiri demi Efisiensi Jadwal
BI Perluas QRIS ke China, Transaksi Langsung Pakai Rupiah dan Yuan Tanpa Dolar
Rupiah Terperosok, Kadin: Pelemahan Bisa Jadi Peluang Dongkrak Ekspor