Di sisi lain, Bahlil tak menampik bahwa pengembangan industri strategis ini masih perlu sokongan dari mitra luar negeri. Terutama untuk urusan transfer teknologi, membuka akses pasar, dan menerapkan manajemen yang profesional. Penandatanganan hari Jumat itu dimaksudkan untuk mempertegas semangat kolaborasi investasi harus menguntungkan semua pihak, tapi prioritas nasional tetap nomor satu.
Skala proyeknya memang ambisius. Kapasitas produksi baterai listrik yang ditargetkan mencapai 20 Giga Watt hour (GWh). Jika semuanya berjalan mulus, ekosistem ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia.
Kolaborasi dengan investor global seperti Huayou dan EVE Energy, bersama perusahaan nasional Antam, IBI, dan DBL, diharapkan bisa memacu alih teknologi. Harapannya, perusahaan dalam negeri kelak bisa benar-benar mandiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Bahlil juga menyoroti peran penting perusahaan daerah. Rencana pembangunan ekosistem ini akan melibatkan pihak-pihak lokal, misalnya mitra di Jawa Barat. Sementara untuk pengembangan tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi, lokasinya akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.
“Jadi kita, Insyaallah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia,” kata Bahlil dengan nada optimis. Ia menambahkan, semua ini bertujuan untuk penguasaan bahan baku dan baterai mobil, sebagai langkah konkret menuju energi baru terbarukan.
Momentum kerjasama ini jelas sebuah langkah maju. Tinggal menunggu realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Harga CPO Februari 2026 Naik Tipis, Didorong Antisipasi Imlek dan Ramadan
Menag Lepas 1.620 Petugas Haji ke Arab Saudi, Tongkat Estafet Resmi Beralih
KPK Dalami Perjalanan Luar Negeri dan Penukaran Uang Ridwan Kamil
Dari Kue Basah ke Peyek Koin: Kisah Ibu Murni dan Dukungan yang Mengubah Nasib