Eva menekankan, aktivitas menerbangkan layang-layang di sekitar jalur Whoosh itu sangat berisiko. Bisa merusak infrastruktur listrik dan yang paling bahaya, mengancam keselamatan perjalanan kereta yang melaju kencang itu.
"Gangguan akibat layang-layang paling sering terjadi di wilayah Padalarang dan Cimahi, khususnya di jalur antara Stasiun Padalarang hingga Tegalluar Summarecon, terutama saat musim liburan sekolah," tambahnya.
Lalu, upaya apa yang sudah dilakukan? KCIC gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan permukiman warga. Mereka juga mengandalkan teknologi, dengan mengoperasikan 1.846 unit CCTV. Tidak ketinggalan, sekitar 530 petugas pengamanan disiagakan, berjaga 24 jam dengan posisi kira-kira tiap 500 meter, dan tentu saja berkoordinasi dengan TNI-Polri.
"KCIC kembali mengimbau masyarakat untuk tidak bermain layang-layang dalam radius tiga kilometer dari jalur Whoosh demi keselamatan perjalanan kereta cepat yang melaju hingga 350 kilometer per jam," tutup Eva.
Jadi, meski statistik ketepatannya mengesankan, perjalanan Whoosh rupanya punya tantangannya sendiri. Dari hewan melata hingga mainan anak-anak, semua butuh kewaspadaan ekstra.
Artikel Terkait
Nadia Shakila Cetak 31 Gol, Rebut Sorotan di MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta
Tiket Mudik Lebaran 2026 Sudah Ludes 131 Ribu, Rute Yogyakarta-Gambir Paling Diburu
Trump Pilih Kevin Warsh untuk Pimpin The Fed, Akhir dari Perburuan Berbulan-bulan
Siaga 3 Katulampa Picu Aksi Antisipasi Banjir di Ibu Kota