BMKG Buka Fakta: Operasi Modifikasi Cuaca Bukan Biang Kerok Banjir

- Kamis, 29 Januari 2026 | 13:35 WIB
BMKG Buka Fakta: Operasi Modifikasi Cuaca Bukan Biang Kerok Banjir

Lantas, bagaimana dengan isu ‘OMC memindahkan hujan’ yang bikin banjir di wilayah tetangga? BMKG pun membeberkan dua metode utama yang mereka gunakan untuk melindungi kawasan strategis.

Pertama, Jumping Process Method. Di sini, tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut seperti Laut Jawa atau Samudra Hindia menggunakan radar. Awan-awan itu lalu disemai sebelum mencapai daratan, sehingga hujan diharapkan jatuh di perairan.

Kedua, ada Competition Method. Metode ini dipakai untuk awan yang tumbuh langsung di atas daratan. Penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhannya, mencegahnya menjadi awan Cumulonimbus yang besar dan ganas. Tujuannya jelas: meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain.

Meski begitu, BMKG juga mengakui satu hal penting. Kemampuan lingkungan dalam menyerap air hujan tetaplah faktor kunci penyebab banjir. Fakta bahwa sekitar 800 situ di Jabodetabek telah hilang sejak 1930-an, misalnya, jadi bukti nyata betapa daerah resapan kita sudah sangat berkurang.

“Oleh karenanya, BMKG sepakat bahwa penataan lingkungan sebagai respons terhadap penanganan banjir menjadi hal paling utama yang harus dilakukan,” pungkas pernyataan itu.

Upaya seperti OMC, meski penting, tetaplah bersifat paralel. Ia dibutuhkan untuk mengurangi beban curah hujan agar sesuai dengan daya dukung lingkungan yang ada sekarang. Jadi, solusinya harus komprehensif, dari atas hingga ke akar rumput.

(Nadya Kurnia)


Halaman:

Komentar