Sebagai contoh, Wamenpar menyebut Bali. Pulau dewata itu mayoritas penduduknya beragama Hindu, tapi fasilitas untuk wisatawan muslim tersedia dengan baik. Mulai dari masjid hingga musala di berbagai hotel. Artinya, kesiapan itu sudah ada. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya secara lebih masif dan strategis.
Di sisi lain, pasar yang dituju memang sangat menjanjikan. Data yang dipaparkan menunjukkan populasi muslim global pada 2025 mencapai 2,19 miliar jiwa. Angka itu diproyeksikan melonjak jadi 2,5 miliar dalam sepuluh tahun ke depan. Yang menarik, sekitar 70 persennya adalah generasi muda di bawah 40 tahun. Mereka inilah calon pasar, tenaga kerja, dan penggerak ekonomi di masa depan.
Lokasinya pun menguntungkan. Lebih dari dua pertiga muslim dunia tinggal di Asia. "Ini harusnya tidak terkena Trump Impact-lah ya," canda Wamenpar dengan ringan. "Kita narik turis ya udahlah, yang dari muslim Asia kita tarik ke Indonesia, banyak bisa kita dapat."
Kawasan Asia, dengan demikian, menjadi arena yang sangat strategis. Dan Indonesia berpeluang besar untuk menjadi pusatnya.
Artikel Terkait
Imlek dan Ramadan Berpadu, Lapangan Banteng Jadi Panggung Kerukunan 2026
KPK Serahkan Keputusan Pemeriksaan Jokowi ke Penyidik
Enam Laporan Masuk, Polisi Dalami Materi Mens Rea Pandji Pragiwaksono
Menkeu Bocorkan Waktu Pelantikan Wamenkeu Baru: Saya Dengar Februari