LSF punya strategi. Mereka tak ingin para produser hanya puas dengan pasar domestik yang sudah ramai. Ambisinya lebih besar.
"LSF ingin mendorong para rumah produksi di Indonesia untuk juga tidak hanya berfokus pada pasar dalam negeri tetapi juga pasar di kawasan ASEAN maupun Asia maupun dunia,” tegas Naswardi.
Sayangnya, penetrasi film kita di kawasan masih minim. Film Thailand dan Malaysia, misalnya, justru lebih banyak masuk ke Indonesia. Untuk membalik keadaan, LSF berencana memperkuat jejaring. Mereka akan gandeng lembaga sensor film di Malaysia, Thailand, hingga Korea Selatan.
Idenya sederhana: membuka ruang bersama. Agar film Indonesia bisa dapat izin tayang lebih mudah di negara lain, dan sebaliknya. Harapannya, akses distribusi terbuka lebar.
Semua upaya ini, pada akhirnya, bermuara pada satu tujuan: memperkuat kontribusi nyata industri film bagi perekonomian nasional. Jalan masih panjang, tapi langkah awalnya sudah mulai terlihat.
Artikel Terkait
Pemerintah Andalkan ART Hadapi Investigasi Dagang AS
Kantor Pertanahan Tetap Buka Terbatas Saat Libur Panjang Idulfitri 2026
Jasa Marga Proyeksikan 3,53 Juta Kendaraan Mudik Lewat Empat Gerbang Tol Utama
Hutama Karya Beri Diskon Tol 30% di Trans Sumatera untuk Mudik Lebaran 2026