Lampu ruangan menyala. Kredit film terakhir bergulir. Moderator maju, membuka sesi tanya jawab. Dari ratusan penonton, cuma tiga tangan yang terangkat. Lima menit berlalu dengan canggung, lalu sesi ditutup. Tapi coba keluar ruangan: suasana justru ramai. Kilatan kamera, riuh percakapan, tawa jauh lebih semarak dibanding diskusi tadi.
Ini bukan kebetulan. Sepanjang penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 awal Desember ini, pola serupa terus berulang. Di Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai jantung komunitas film, budaya kritik terasa sekarat. Pemutaran ada di mana-mana, festival memadati bioskop, tapi obrolan yang mendalam justru makin langka.
Setelah layar padam, ruang diskusi sering kosong melompong. Atau kalau pun ada pertanyaan, sifatnya aman-aman saja. Moderator buru-buru, penonton sibuk berfoto. JAFF sendiri sebenarnya berani menampilkan film-film yang tak bakal lolos di jaringan komersial. Sayangnya, keberanian itu jarang sekali menular ke penontonnya.
Masalahnya tak cuma di festival. Di luar event besar, komunitas film kampus dan kota juga jarang menggelar forum kritik yang benar-benar bekerja. Bedah film kerap jadi formalitas belaka, diskusi digantikan oleh dokumentasi.
Wacana mentok di permukaan. Struktur untuk menopangnya tak ada. Ruang publik media absen, kebiasaan menulis tak dibangun, waktu untuk membedah karya audio-visual pun tak pernah disisihkan dengan serius.
Zona Aman yang Menghambat
Di kalangan pembuat film sendiri, fenomena ini terasa jelas. Michael Pantouw duduk di sudut sebuah kafe, mengenakan kaos hitam. Tas jinjing bertuliskan JAFF tergeletak di atas meja. Ia tersenyum ramah, tapi nada bicaranya tegas.
Sebagai Student Jury JAFF 2023 dan filmmaker di JAFF 2025, Michael menyebut banyak ruang diskusi cuma jadi "false factory" tampak produktif, padahal isinya cuma saling jaga perasaan. Padahal, justru kritik yang tajam dan jujur yang dibutuhkan filmmaker untuk berkembang.
Ia akui JAFF berani menayangkan film-film non-mainstream. Tapi keberanian itu tak otomatis memicu diskusi yang berani pula.
Menurutnya, relasi kuasa di komunitas juga jadi masalah. Senior enggan dikritik junior, moderator menghindari pertanyaan tajam.
Kegagalan diskusi, katanya, sering berakar pada budaya sosial. Di ruang publik, kritik dianggap mengganggu harmoni.
Pesta Perayaan vs. Pembedahan
Kalau di festival Asia percakapannya tumpul, di lapisan komunitas mahasiswa keadaannya tak jauh beda. Forum-forum kecil yang mestinya jadi kawah candradimuka justru berubah jadi ruang aman. Ramah, suportif, hangat tapi jarang berani menyelam sampai ke dasar.
Di sinilah kultur ‘pesta pora perayaan dulu, pembedahan ditunda nanti’ paling kentara. Bukan malas, tapi arsitektur forumnya sendiri jarang dipertanyakan.
Tegar Muktiawan, atau Awan, mantan Wakil Ketua MM Kine Club Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, termasuk yang masih optimis. Baginya, ekosistem sudah jalan. Tinggal penontonnya yang perlu diajak lebih jauh.
Pandangan itu terdengar logis, tapi justru di situ letak ketegangannya. Tanggung jawab dibebankan pada respons penonton, bukan pada struktur forum.
Ima Hoeriyah, Wakil Ketua MM Kine Club, punya sudut pandang berbeda. Baginya, apresiasi dan kritik bukan hal yang bertentangan. Kritik yang bermakna justru lahir dari apresiasi yang jujur.
Tapi ia akui satu masalah besar.
Artikel Terkait
MNC Lido City Gelar Aksi Bersih-Bersih Masjid Sambut Ramadhan
Cak Imin Ingatkan: Tanpa JKN, Satu Penyakit Bisa Jatuhkan Keluarga ke Jurang Miskin
IIMS 2026 Siap Jadi Ajang Debut Global dan Serbuan Mobil Terbaru
Seskab dan Wakil Panglima TNI Bahas Percepatan Program Strategis hingga Pemulihan Pascabencana