Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat

- Selasa, 27 Januari 2026 | 20:00 WIB
Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat

Lampu ruangan menyala. Kredit film terakhir bergulir. Moderator maju, membuka sesi tanya jawab. Dari ratusan penonton, cuma tiga tangan yang terangkat. Lima menit berlalu dengan canggung, lalu sesi ditutup. Tapi coba keluar ruangan: suasana justru ramai. Kilatan kamera, riuh percakapan, tawa jauh lebih semarak dibanding diskusi tadi.

Ini bukan kebetulan. Sepanjang penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025 awal Desember ini, pola serupa terus berulang. Di Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai jantung komunitas film, budaya kritik terasa sekarat. Pemutaran ada di mana-mana, festival memadati bioskop, tapi obrolan yang mendalam justru makin langka.

Setelah layar padam, ruang diskusi sering kosong melompong. Atau kalau pun ada pertanyaan, sifatnya aman-aman saja. Moderator buru-buru, penonton sibuk berfoto. JAFF sendiri sebenarnya berani menampilkan film-film yang tak bakal lolos di jaringan komersial. Sayangnya, keberanian itu jarang sekali menular ke penontonnya.

Masalahnya tak cuma di festival. Di luar event besar, komunitas film kampus dan kota juga jarang menggelar forum kritik yang benar-benar bekerja. Bedah film kerap jadi formalitas belaka, diskusi digantikan oleh dokumentasi.

Wacana mentok di permukaan. Struktur untuk menopangnya tak ada. Ruang publik media absen, kebiasaan menulis tak dibangun, waktu untuk membedah karya audio-visual pun tak pernah disisihkan dengan serius.

Zona Aman yang Menghambat

Di kalangan pembuat film sendiri, fenomena ini terasa jelas. Michael Pantouw duduk di sudut sebuah kafe, mengenakan kaos hitam. Tas jinjing bertuliskan JAFF tergeletak di atas meja. Ia tersenyum ramah, tapi nada bicaranya tegas.

Sebagai Student Jury JAFF 2023 dan filmmaker di JAFF 2025, Michael menyebut banyak ruang diskusi cuma jadi "false factory" tampak produktif, padahal isinya cuma saling jaga perasaan. Padahal, justru kritik yang tajam dan jujur yang dibutuhkan filmmaker untuk berkembang.

“Tapi banyak yang memilih zona aman,” ujarnya.

Ia akui JAFF berani menayangkan film-film non-mainstream. Tapi keberanian itu tak otomatis memicu diskusi yang berani pula.

“Kalau film jelek, ya tidak mungkin masuk JAFF. Nah, pertanyaannya: apa sih yang bikin film itu dibilang jelek?”

Menurutnya, relasi kuasa di komunitas juga jadi masalah. Senior enggan dikritik junior, moderator menghindari pertanyaan tajam.

“Ada yang nanya cuma buat unjuk diri,” katanya. “Ada juga yang memilih diam karena merasa seni tidak punya nilai mutlak.”

Kegagalan diskusi, katanya, sering berakar pada budaya sosial. Di ruang publik, kritik dianggap mengganggu harmoni.

“Kalau ada kritik, biasanya ditarik ke obrolan privat.”

Pesta Perayaan vs. Pembedahan

Kalau di festival Asia percakapannya tumpul, di lapisan komunitas mahasiswa keadaannya tak jauh beda. Forum-forum kecil yang mestinya jadi kawah candradimuka justru berubah jadi ruang aman. Ramah, suportif, hangat tapi jarang berani menyelam sampai ke dasar.

Di sinilah kultur ‘pesta pora perayaan dulu, pembedahan ditunda nanti’ paling kentara. Bukan malas, tapi arsitektur forumnya sendiri jarang dipertanyakan.

Tegar Muktiawan, atau Awan, mantan Wakil Ketua MM Kine Club Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, termasuk yang masih optimis. Baginya, ekosistem sudah jalan. Tinggal penontonnya yang perlu diajak lebih jauh.

Pandangan itu terdengar logis, tapi justru di situ letak ketegangannya. Tanggung jawab dibebankan pada respons penonton, bukan pada struktur forum.

Ima Hoeriyah, Wakil Ketua MM Kine Club, punya sudut pandang berbeda. Baginya, apresiasi dan kritik bukan hal yang bertentangan. Kritik yang bermakna justru lahir dari apresiasi yang jujur.

Tapi ia akui satu masalah besar.

“Kritik sering dibatasi oleh rasa tidak enakan, takut menyinggung pembuat film, atau takut dianggap sok tahu,” ujarnya.

Yang tersisa ya kritik yang normatif. Hanya mengusap permukaan.

Menurut Ima, ini soal budaya yang belum terbentuk. Ruang diskursus sebenarnya ada, tapi penonton belum terbiasa merasa pendapatnya valid.

“Jadi bukan soal ruangnya tidak ada, tapi kebiasaan berdiskursus yang belum tumbuh.”

“Budayanya Sudah Mati”

Dari dalam komunitas, langkah perbaikan mungkin terdengar cukup. Tapi bagi yang sudah mengamati puluhan tahun, diagnosanya lebih keras.

Di ruang kerjanya yang dipenuhi buku dan poster film, Himawan Pratista duduk sambil sesekali mengetuk-ngetuk meja. Kritikus film dan pendiri Komunitas Film Montase ini sudah mengamati ekosistem film Jogja hampir dua dekade.

Soal absennya budaya kritik, pandangannya blak-blakan.

“Yang kamu resahkan ini menarik,” ujarnya. “Karena itu justru pernah jadi ide film dokumenter saya. Tapi melihat realitasnya sekarang, ya budayanya sudah mati atau mungkin memang tidak pernah benar-benar hidup.”

Ia soroti persoalan mendasar: rapuhnya pemahaman estetika di kalangan pembuat film. Banyak yang bekerja tanpa landasan konseptual jelas.

“Ada false geonarasi dan geoestetika,” katanya.

Tanpa peta estetika, diskusi kehilangan arah.

“Banyak yang bicara soal film tanpa tahu posisi estetikanya di mana. Akhirnya diskusi jadi abstrak dan tidak nyambung.”

Ia juga menyoroti sikap elitis yang justru datang dari kalangan filmmaker sendiri. Mereka membangun tembok eksklusivitas, lalu heran kenapa diskursus tak jalan.

Industri film Indonesia memang tumbuh. Bioskop penuh, box office meledak. Tapi Himawan melihat ironinya.

“Industri maju, tapi cerita kita stuck. Kita jadi semakin ramai, tapi tidak semakin dalam.”

Gemuruh Tepuk Tangan

Kegelisahan Himawan bergema. Di garis depan, kritikus muda masih mencoba menulis di tengah sunyi, mempertanyakan relevansi kerja mereka di ekosistem yang makin nyaman dengan tepuk tangan.

Dari ruang ke ruang, pola yang sama terus terulang. Jogja masih bergerak, tapi gerakannya kini mirip ritual. Festival datang dan pergi, film diputar dan ditepuk, pertanyaan mendasar makin jarang diajukan.

Di sebuah pemutaran lain, moderator bertanya, “Ada pertanyaan?”

Hening.

Seorang penonton angkat ponsel, memotret layar yang masih menampilkan kredit. Lampu menyala. Orang-orang beranjak, bicara soal mau makan di mana. Film itu entah baik atau buruk sudah selesai. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Kenyamanan jadi mata uang baru di ekosistem ini. Karya disambut hangat, diskusi dibiarkan suam-suam kuku. Jogja tak pernah miskin mahakarya, hanya sering kekurangan nyali untuk menguliti yang ganjil, yang belum matang.

Pertanyaannya: bila sebuah ekosistem film tak lagi memberi ruang bagi suara yang mencakar dan mempertanyakan, mungkinkah ia benar-benar tumbuh atau justru diam-diam membusuk di bawah gemuruh tepuk tangan?

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar