KSSK: Sistem Keuangan RI Tangguh Hadapi Gejolak Global di 2026

- Selasa, 27 Januari 2026 | 17:30 WIB
KSSK: Sistem Keuangan RI Tangguh Hadapi Gejolak Global di 2026

Di sisi lain, peran APBN sebagai ‘peredam kejut’ atau shock absorber terlihat cukup efektif. Sepanjang tahun lalu, realisasi belanja negara menyentuh Rp3.451,4 triliun. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun.

Memang defisitnya masih ada, sekitar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB. Tapi dana itu dialokasikan untuk program-program yang langsung menyentuh masyarakat.

“Realisasi belanja negara di antaranya untuk pelaksanaan program pembangunan nasional seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan program Koperasi Desa (KUD), paket stimulus 1 sampai dengan 4 selama tahun 2025 yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha,” papar Purbaya.

Ada indikator lain yang juga menggembirakan: pasar Surat Berharga Negara (SBN). Yield SBN 10 tahun berhasil turun ke level 6,41 persen. Angka ini jauh lebih baik ketimbang akhir 2024 yang sempat menembus di atas 7 persen. Penurunan ini jelas sinyal positif, menunjukkan kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal kita masih kuat.

Menatap tahun 2026, jalan masih panjang. KSSK berjanji akan terus waspada. Mereka berkomitmen melakukan mitigasi terkoordinasi dan penilaian ke depan untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor AS serta kerentanan rantai pasok global yang masih rapuh.

“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, sekaligus melakukan usaha mitigasi secara terkoordinasi,” tutup Purbaya.


Halaman:

Komentar